Ketika dakwah bukan melulu ceramah


“Kita gak pernah tau, kapan dan bagaimana Dia memberikan hidayah. Dengan cara apa datangnya, dan lewat mana. Hidayah bisa datang dari mana saja tanpa arah yang kita tau. Hidayah bisa saja mengalir, perlahan mengetuk pintu hatimu, berproses dalam waktu. Dan jemputlah hidayah itu. Allah akan berlari mendekati hamba-Nya yang merangkak untuk menggapai-Nya. Allahuakbar!”
by the way,…. mungkin rada ga biasa kalo saya menulis ini dengan mengutip sebuah kalimat yang lebih sering kita dengar saat pengajian, entah apa yang merasuk sampai nulis begitu, namun ga ada salahnya juga untuk nemenin judul di atas “ketika dakwah bukan melulu ceramah”. sepintas judulnya mirip sama film yang baru baru ini rillis di bioskop, yang konon penggarapan film ini dibiayai dengan “penonton beli dulu tiketnya sebelum di produksi” lohh kok bisa ya ?? saya ga akan nulis soal biaya produksi film itu, terserah mau dari mana dananya, buat penggemar film seperti saya, kalau memang bagus ya kita tonton saja.  kembali soal film tadi yang diangkat dari sebuah novel dengan judul sama dan sempat booming (bener ga istilahnya) di tahun 90an, dicetak 39 kali hingga mencapai satu juta eksemplar dan diperkirakanan dibaca lebih dari tiga juta orang (gimana ngitungnya yah ??) tapi jangan nanya saya baca novelnya apa ga yah ? jujur saya ga baca, dan ga perlu baca juga sih, supaya tidak ber – expektasi lebih karena jalan ceritanya akan berbeda, setidaknya ada alur yang berubah menyesuaikan dengan kondisi yang cocok untuk saat ini. sudah nonton belum filmnya ? klo itu jelas sudah,…. ini nih judulnya kmgp

Diawali sebuah adegan dimana seorang cowok gagah yang mengendarai sepeda motor (anak motor nih) dan berhenti untuk mengambil gambar sebuah pemandangan danau atau laut entah dimana (belakangan sih saya ber imajinasi itu di ternate) karena tidak ada penjelasan dalam alur filmnya, tapi disinilah imajinasi kita dalam mencerna sebuah film harus bekerja keras (bagi yang belum baca novelnya) dan karena asyknya melihat pemandangan indah yang akhirnya cowok “gagah” ini terjatuh dari jurang dan tenggelam, matikah ? ga tau juga mati apa ga, sepanjang film ini tidak ada penjelasan atau sebuah cerita yang menunjukan keterangan yang berhubungan dengan tenggelamnya si cowok “gagah”,

kmgp1

Adegan si cowok “gagah” terlalu asyk ambil gambar

meski film ini sengaja dibuat klimaks nya dulu baru menceritakan awalnya, lalu kalau di novelnya bagaimana ? karena saya ga baca jelas ga bisa komentar, namun saya yakin novel ini ga makai alur mundur, dengan sang pemeran tenggelam di laut. lalu siapa cowok “gagah” pengendara motor yang tenggelam itu ? ternyata itu tokoh utama dalam film yang judulnya “KETIKA MAS GAGAH PERGI (KMGP)”.

Sebuah film yang di suport oleh lembaga ACT ( Aksi Cepat Tanggap )  merupakan film dakwah islam yang mencoba menyasar kalangan anak muda agar bisa memahami bahwa islam itu “indah dan cinta”, ahwa islam itu bukanlah “pedang dan Alquran” seperti banyak yang digambarkan oleh orang orang yang salah menilai islam. KMGP ini bukanlah film dakwah pertama, sudah ada film – film box office yang muncul duluan, namun disini saya melihat bahwa ini fenomena menarik terjadi sebuah “REVITALISASI” (ga ngerti nemu dimana kata ini) sebuah penyegaran dalam metode dakwah dan menjadikan solusi alternatif dari problem yang dihadapi. Secara terminologi yang saya pahami secara sederhana dalam berdakwah selama ini, metode dakwah kita itu sudah layu, kaku, statis, tidak segar, dan tidak kontekstual. Disini perlunya kita menyegarkan kembali berbagai model dakwah yang dilakukan. Penyegaran tersebut tentu saja memiliki ruang lingkup yang luas, bisa jadi terkait dengan juru dakwah, metode dakwah, materi dakwah, maupun komunitas dakwah sebagai objek perubahan. Perubahan masyarakat dengan segala permasalahannya terjadi secara massif. Karena itu dakwah juga perlu dikemas dengan model aktual. Seperti yang terlihat selama ini, dakwah hanya dipahami secara sempit dan hanya sebatas urusan lisan. Materi yang disampaikan para juru dakwah juga sering tidak up to date. Ketika dakwah berlangsung, maka pokok pembahasan masih seputar fikih shalat, fikih zakat, fikih puasa, fikih munakahat, dan fikih haji.

kmgp7

Tokoh tokoh yang terliha “handsome” tentu sangat menarik perhatian kaum hawa yang akan menjadi mayoritas penonton

Kembali ke KMGP, sosok seorang “gagah” yang memang gagah dalam fisik, gagah dalam pemikiran dan gagah dalam perilakunya, menjadikan dirinya sosok pembawa perubahan (hijrah) ke arah lebih baik, dimana orang orang yang dekat akhirnya mendapatkan “hidayah” untuk hijrah “move on”  dan menjalankan islam secara kaffah. salah satu model dakwah yang menarik bagi saya adalah apa yang dilakukan “yudi” dalam adegan film terdengar namanya “fisabilillah” bagi  tokoh gita. dengan metode “mengamennya” di atas mode angkutan bus.Ttidak mudah melakukan hal seperti itu karena orang akan mengecapnya sok agamislah, sok moralislah dan cap negatif lainnya, yahh metode ini memang tidak lazim, namun kembali pada niat “sampaikanlah walau satu ayat dimanapun kamu berada”.

kmgp3

Yudi “fisabilillah” saat mengamen (ceramah) di angkutan umum 

Mempromosikan nilai-nilai Islam secara komprehensif bisa dijadikan barometer untuk memotret berbagai objek, selain manusia juga lingkungan sekitarnya. Banyak hal bisa kita lakukan dari hanya sekedar dakwah konvensional, karena ini dikhawatirkan melahirkan pemahaman Islam yang sempit. Islam hanya dipahami sebatas urusan fikih ritual. Akhirnya persoalan-persoalan kontemporer yang tersaji di hadapan kita tidak terpecahkan secara baik.

Contoh yang menimbulkan keprihatinan kita adalah masalah lalu lintas, rasa nyaman dalam konteks ini bergerak ke arah yang cukup memprihatinkan. Setiap pengguna jalan merasa yang paling berhak dengan pengguna jalan yang lain. Selain jalan yang sempit dan berlubang, sengkarut kendaraan di jalanan tidak dapat dihindari. ini seharusnya menyadarkan kita untuk merumuskan model dakwah baru. Fikih lalu lintas sepertinya perlu dipromosikan. Tertib berlalu lintas, menghormati hak-hak orang lain, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, sebenarnya merupakan bagian penting dari Islam. 
KMGP yang juga mencoba memotret kehidupan kumuh di utara jakarta ini, menyadarkan umat kalau kita tidak cukup dengan kata kata dalam ceramah saja, perlu sebuah tindakan dan pendekatan langsung pada anak anak terlantar, seperti yang dilakukan trio mantan preman yang akhirnya dibantu gagah mendirikan “rumah cinta” bisa menjadi contoh nyata, inilah dakwah sesungguhnya dan harus dijalankan secara istiqomah.

kmgp4

Mantan preman yang mengabdikan diri ke masyarakat dengan mendidik anak jalanan

Pesan pesan moral yang disampaikan dalam film KMGP ini sangat mengena dan patut kita renungkan kemudian kita implementasikan dalam kehidupan kita, saat berhadapan dengan anak yatim, bukan cuma fikih ekonomi yang kita sampaikan, namun kita  membawakan makanan, minuman, bahkan sabun untuk kebutuhan sehari-hari.
…………………………… any way by the way film “KETIKA MAS GAGAH PERGI” sesaat setelah menonton film ini ada diskusi menarik soal beraninya melemparkan film yang bergenre islami ini bukan pada moment moment hari besar islam, ini menarik.karena pada umumnya banyak produsen melihat moment dulu sebagai strategi pemasaran. Tema “CINTA” yang diusung ini sebetulnya memang sangat cocok apalagi mendekati bulan februari yang karena budaya barat orang menyebutnya bulan penuh “cinta”. 
………………. ini dulu ulasannya nanti disambung lagi 
Iklan

One thought on “Ketika dakwah bukan melulu ceramah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s