39 Days (Perjalanan cepu – lombok – padang) part 1


Sudah lama saya tak pernah menatap langit dan mengintip sekeliling  tak sengaja entah apa perasaaan yang terlalu mengigau atau mendramatisir pada malam yang sunyi ini.

Picture 310
Batu payung

 

“Kedekatanku pada dirimu, hanyalah sebatas teman, Kasih sayangku pada dirimu, kasih seorang teman” alunan merdu dari sang raja dangdut Haji Rhoma Irama sangat menyentuh perasaanku, bukan karena lagu dangdut yang berirama hindi tapi makna yang dalam dari lagu itu sendiri. iya tidak terbantahkan memang lagu sohibah mirip dengan lagu sahiba di film dil hai tumhara, tapi saya tidak bahas ini lagu jiplak atau tidak tapi apa dibalik lagu ini. seperti film bang rhoma lainnya yang selalu diiringi lagu lagu merdu, sohibah ini salah satu soundtrack di film sajadah kabah, sebuah film dangdut islami yang menceritakan perjalanan seorang musafir menjelajah wilayah indonesia bagian timur, film yang dibuka dengan panorama pemandangan indah. sesaat setelah menonton film ini dalam hati saya berkata, saya harus menjelajah pulau seribu masjid ini.  inilah yang mengilhami saya untuk melakukan touring 39 hari.

Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini yang tidak bisa kita lakukan yang penting adalah niat, dan kesempatan akan datang mengikutinya. Bekerja di pengeboran minyak membuat saya banyak mempunyai waktu luang, jika belum ada proyek yang saya lakukan adalah jalan jalan naik gunung menjelajah lokasi yang belum saya jelajahi dengan menggunakan sepeda motor.

cepu1 (2)
Cepu kota minyak

Touring bukanlah pertama kali saya lakukan karena sebelumnya saya sudah sering keliling jawa tengah dan jogyakarta menyusuri pantai selatan gunung kidul bahkan sebelum jalanannya halus seperti saat ini juga  jawa timurpun sudah saya jelajahi dengan menyusuri jalan Daendels hingga ke panarukan sampai ke papuma jember. Dan mimpi seorang petouring adalah menjelajah keluar kandang (pulau jawa) dan mimpi itu yang ingin saya wujudkan adalah menjejakan kaki di sebuah masjid pinggir pantai tanjung aan dalam film sajadah kabah. perjalanan selama 39 hari ini, yang semula direncanakan hanya 30 hari  saya sebut sebagai touring kebangkitan karena dilakukan pada bulan mei menyambut hari kebangkitan nasional dan juga kebangkitan saya setelah terpuruk dalam usaha (lupakan saja ya kenapa saya bangkrut).

30 hari
rute 39 hari perjalanan

Meskipun lombok adanya disebelah timur, touring rasanya tidak berkah jika belum sungkem dan memohon restu dari ibu, maka perjalanan dimulai dengan tujuan ke arah barat menuju kota bawang dan telor asin. tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena perjalanan ini nyaris seperti perjalanan mudik saja, cepu – brebes cukuplah di tempuh dalam 6 jam perjalanan.

tugu bawang (2)
Tugu Bawang di alun alun brebes

Sedikit cerita tentang brebes, kota ini terletak di bagian barat jawa tengah, disebelah utara pulau jawa dan biasa disebut wilayah pantura atau pantai utara. Brebes semua orang tahu keistimewaan kota ini adalah telor asin dan bawang merahnya, kenapa istimewa ? tidak banyak yang saya tahu kenapa telor asin brebes terasa istimewa, namun berdasarkan pengalaman saya sejak kecil yang juga pernah memproduksi telor asin, sedikit bocoran saja jika cara pengolahan telor asinnya berbeda dengan kota lainnya seperti indramayu. apa rahasianya ? kalau saya ceritakan nanti bukan rahasia dong jadi tidak akan saya bocorkan, biarlah kalian merasakan saja nikmatnya telor asin brebes, tapi jika masih penasaran silahkan hubungi saya atau langsung saja main ke kota brebes ya bisa pakai kereta atau bus.

stasiun brebes
Stasiun Brebes

Dan desa kelahiran saya sendiri ada disebelah utara brebes, jalan masuknya persis tengah tengah alun brebes, sebelahnya ada kantor pos dan kantor telkom, ikutin saja jalan itu bisa dengan jalan kaki seperti yang biasa saya lakukan dulu setiap hari untuk berangkat sekolah, jaraknya ya deket sekitar 7 kilometer, alternatif lain adalah jalanan tanggul, masuknya dekat jempatan kali pemali dengan menyusuri tanggul kali pemali kita bisa menikmati kelokan indah kali (sungai) yang sumber airnya dari gunung slamet, jalur ini akan langsung sampai ke halaman belakang rumah dengan sebelumnya akan melewati pondok pesantren yang menjadi pintu gerbang desa dan rumah saya memang tidak jauh dari tanggul sungai pemali dan konon tanggul dibelakang rumah adalah gerbang kehancuran. loh biisa begitu ? iya karena jika tanggul itu jebol maka habislah desa sekitaran termasuk juga tambak tambak ikan yang ada. ah jadi rindu pulang nih dan cium tangan ibu.

gerbang desa (2)
Gapura desaku

Gambaran sedikit, desa saya cukup kecil namun memanjang mengikuti alur sungai pemali ke arah utara hingga mencapai bibir pantai utara yang dijadikan lahan tambak udang windu dan ikan bandeng, untuk lahan persawahannya sendiri banyak yang masuk wilayah desa tetangga, dan sebagian besar warga desanya adalah petani termasuk saya sendiri adalah anak petani, hanya jarang turun ke sawah. selama hidup bisa dihitung dengan jari kapan saya ikut memanen padi, tapi bukan berarti saya tidak mengenal aktivitas kampung, karena sejak kecil mengangon kerbau di tanggul pemali  itu sudah biasa saya lakukan sore hari hingga menjelang maghrib, indahnya kenangan hidup di desa.

pemali (2)
Sungai pemali dengan keindahan dan keseramannya

Ada hal yang tidak boleh dilupakan atau dikesampingkan begitu saja jika ke desa saya adalah, tentang sebuah pantangan bagi pendatang untuk mandi di kali pemali, karena banyak cerita seram dengan tenggelamnya tamu (pengunjung) yang mampir di desa, dan sebagian besar dari yang tenggelam dan mati memang tidak ada penduduk lokal. saya sendiri pernah alami kejadian yang hampir merenggut nyawa, konon kata orang tua di desa, saat itu saya selamat karena ditolong oleh penunggu sungai pemali.

peta buaya (2)
Peta kedung buaya (sumber foto dokumentasi 2012 dari blog keluarga)

Cerita seram lainnya adalah adanya kedung buaya, orang biasa menyebutnya rumah buaya, terakhir kali buaya ditemukan pada 2012 dengan panajang 3 meter, lokasi ditemukannya buaya adalah dibelakang rumah.

buaya 3mtr (2)
Berita ditemukannya buaya 3 meter dibelakang rumah

Jangan berpikir desa saya menyeramkan loh, dibalik seramnya desa saya itu indah karena sangat asri, dan masyarakatnya sangat ramah, sebagai umumnya warga kampung semua warga disini saling mengenal, makanya kalau mau cari saya di desa begitu masuk gerbang desa sebut saja nama saya, insya Allah bukan cuma ditunjukan jalannya tapi akan diantar langsung ke rumah. eit belum selesai loh sebagai wilayah pantura kita juga punya pantai indah dan aman, nih lihat dhedek salwa saja mainan dipantai, masa kamu engga ! ayo berkunjung dan jalin silaturahim

dhedek salwa (2)
Lucunya dhedek salwa mainan

next ………….. 39Days Buah maja yang pahit

 

 

 

Iklan

5 thoughts on “39 Days (Perjalanan cepu – lombok – padang) part 1”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s