Amuk murka penunggu pulau sempu


Jika badai diawal bahagia adalah salah satu film dari sang raja dangdut oma irama, kali ini saya buat badai diakhir perjalanan yang dilakoni oleh saya sendiri bersama rombongan tapi bukan dalam sebuah film layar lebar yang diiringi musik keroncong, hanya sebuah lakon dalam catatan perjalanan menyusuri keindahan alam indonesia. Badai ini bukanlah badai kehidupan seperti yang menimpa mang oma dengan menjadi perampok karena dipaksa, meski saya sendiri memang baru mengalami juga badai kehidupan  dengan gulung tikarnya salah satu usaha. Badai yang saya lami ini adalah nyata sebuah amuk badai di sebuah sungai indah di pesisir selatan malang tepatnya di pantai sendang biru.

sempu 2

Peta maps Kota Malang menuju (Pulau Sempu)

Manusia berencana Allah pula yang menentukan, ketika sedang berada dipuncak kejayaan dengan tanpa disangka saya bisa menyingkirkan pesaing pesaing kelas kakap dalam tender pada perusahaan kelas atas, ketika naik itulah kita terpeleset terhempas jatuh, sakit amat teramat sakit namun memang terasa indah meski harus kembali menjadi manusia biasa. benar kata Bapak Proklamator “Bermimpilah kamu setinggi langit, maka ketika kamu jatuh, kamu jatuh diantara bintang bintang dilangit”. iya menjadi manusia biasa membuat saya mempunyai banyak waktu luang dan yang terlintas dikepala adalah menjelajah keindahan indonesia seperti indahnya bintang.

sendang biru.3jpg

Pantai sendang biru

 

Gayung bersambut, ajakan xplore pulau sempu malang dari teman pun saya aminkan meski saat itu musim hujan, saya menyadari pastinya jalanan akan menjadi berlumpur dan licin maka segala sesuatu saya persiapkan matang. Peserta kali ini berasala dari eda beda kota dan propinsi dan titik pertemuan kita adalah di kota malang untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai sendang biru sebagai gerbang masuk ke pulau sempu malang.

sempu6

Perahu sebagai alat angkut menuju pulau sempu

 

Pulau Sempu dan Pantai Sendang Biru berjarak kurang lebih 65 km dari Kota Malang dan di tempuh selama 2 jam, untuk ke pulau sempu kita memerlukan ijin khusus, tidak ribet mengurus perizinannya hanya perlu beberapa menit saja, dan sewa perahupun tidak memerlukan proses tawar menawar harga, kita hanya perlu perjanjian waktu saja kapan waktu penjemputan selanjutnya, dan yang penting penjemputan tidak melebihi jam 5 sore. Setelah segala proses perijinan dan perbekalan memadai perahu pun membelah keindahan pantai sendang biru menuju teluk semut sebagai pintu awal dari sebuah petualangan mendebarkan menuju telaga kahyangan atau dikenal dengan segara anakan.

sempu 5

Teluk semut awal sebuah petualangan

Sampailah kita di teluk semut dan perjalanan selanjutnya adalah berjalan kaki menyusuri hutan dan rawa yang berlumpur, dari beberapa peserta rombongan sebetulnya sudah ada yang pernah ke pulau sempu, sehingga kita sangat yakin tidak akan tersesat di hutan. Namun percayalah bahwa yang pantas sombong hanyalah Allah semata, kesombongan manusia sesungguhnya malah akan menyesatkan manusia itu sendiri, alhasil kita pun tersesat dan tak tahu arah jalan setelah 2 jam lebih kita menyusuri hutan. Namun Allah juga maha baik, dalam ketersesatan kita ada bapak tua (jika bisa disebut kakek) yang tidak tahu dari mana ternyata ada dihadapan kita dan mengingatkan kita, kalau rombongan ini salah jalan dan disarankan untuk kembali ke  arah teluk semut. rombongan pun kembali ke titik awal dan mencari semak semak sesuai petunjuk dari sang kakek.

sempu 1

Lelah setelah salah jalur tracking

430168_2528876304714_1185300313_n

Track yang licin dan berlumpur

Musim hujan sangatlah tidak mudah menuju ke segara anakan, disamping karena lumpur yang cukup lengket juga kemiringan tracknya membuat semakin licin jalur yang dilalui, beruntung kita dari awal sudah menyewa sepatu karet yang sudah disediakan dilokasi perijinan, sehingga cukup aman meski tidak nyaman dipakai. Sewajarnya dari teluk semut ke segara anakan normal adalah 2 jam, saat itu kita sampai menghabiskan waktu 6 jam dan menjelang maghrib rombongan akhirnya sampai di tujuan. lelah terbayarkan dengan melihat indahnya kolam pribadi layaknya pemandian bidadari.

406433_2528887704999_621575868_n

layaknya kolam pribadi

 

Sudah banyak bloger yang menceritakan keindahan pulau sempu dan segara anakannya, dan banyak cerita yang mewarnai perjalanan menuju pulau ini, dan tersesat diawal perjalanan bukanlah akhir petualangan yang kami alami. Keesokan hari setelah dirasa cukup berfoto foto dan mandi di telaga kahyangan meski masih terasa berat meninggalkan keindahan sempu, namun kita harus berpacu dengan waktu agar tidak ditingggal perahu, resikonya bisa menginap di teluk semut. Untuk itu rombongan dibagi 2, rombongan pertama diusahakan untuk bisa sampai diteluk semut lebih dahulu agar bisa menghubungi perahu, dan menahannya sampai rombongan kedua sampai.

sempu 8

Lelah namun tetap semangat

Ketika selesai membagi rombongan menjadi dua, saya tiba tiba mendengar sayup sayup suara suara “Assalamu alaikum” dan refleks saya menjawab “waalaikum salam” dalam rombongan hanya beberapa yang mendengar itu namun kita tidak tahu dari mana sumbernya, ya sudahlah mungkin hanya halusinasi saja. Rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan menuju teluk semut dengan track seperti saat datang dan tentu dengan jalur yang masih licin dan berlumpur. Jatuh bangun seperti kehidupan pun dialami saat perjalanan pulang, nemun waktu yang terus berputar memaksa rombongan memaksimalkan tenaga hingga emosi memuncak dikepala.

sempu 10

Rombongan kedua sampai diteluk semut ketika menjelang maghrib, suasana sudah mulai terlihat gelap dan berkabut, untung nelayan yang kita sewa perahunya mau menunggu meski terlihat cemas dimata mereka, kecemasana mereka terlihat begitu melihat rombongan kedua datang, tanpa diberi waktu istirahat langsung diminta segera naik perahu dan mereka siap melempar sauh untuk melajukan perahu.  Kenapa mereka cemas ? dalam hati saya bertanya, pasti ada apa apa, namun semua pertanyaan itu hanya bisa dalam hati.

sempu 4

Keindahan yang melenakan mata namun penuh misteri

Perahu perlahan meninggalkan teluk semut,semua aman tanpa ada hal yang perlu dicemaskan, air pantaipun terlihat tenang, angin terasa senyap sepi disuasana yang temaram, perahu semakin mendekati bibir pantai dan nelayan pun bersiap melemparkan tali perahu untuk dilemparkan kedaratan agar bisa ditarik ke pinggiran pantai ………

Dan tinggal beberapa meter saja perahu sampai daratan, namun tidak kami sangka dan kami duga, tanpa ada petir tanpa ada awan tiba tiba hujan lebat dan badai menghantam perahu yang kami tumpangi, perahu oleng terhantam ombak yang cukup besar, dengan angin hujan yang cukup lebat, suasana panik dan cemas menghantui semua rombongan termasuk nelayan yang membawa rombongan. Sayup dari daratan suara teriakan teriakan terdengar dari daratan, melihat perahu kami yang terpontang panting dihantam badai, hingga akhirnya 1 nelayan nekat melompat ke air dan menarik perahu dibantu warga yang ada didaratan dengan penuh perjuagan perahu akhirnya bisa ditambatkan.

sempu 3

Ketenangan airnya penuh misteri

Begitu mencapai bibir pantai rombongan pun langsung disuruh loncat dari perahu dan meninggalkan barang barang diperahu, oleh warga setempat kami di arahkan untuk memasuki mushola yang ada dipantai dekat rumah warga. setelah semua memasuki mushola, rombonganpun tidak diperkenankan keluar dari mushola hingga besok paginya. Entah apa yang terjadi saat itu, yang jelas untuk makanpun kami tidak diperkenanan meninggalkan mushola. Saya saat itu lebih memilih memejamkan mata ketimbang mencari tahu apa yang terjadi, meski dalam benak beribu pertanyaan berseliweran.

Keesokan harinya setelah jam 6 barulah kami seluruh rombongan diperkenankan keluar dari mushola dan kemudian bersiap merapikan barang barang bawaan, beribu pertanyaan apakah yang terjadi kemaren masih saja berkecamuk, degup jantung kecemasan masih terasa di dada, dan naluri jurnalistik menggelitik untuk mencari tahu apa sebab musababnya……………………..

Selesaikah petualangan yang tidak masuk akal dan mendebarkan hanya sampai sampai pagi itu ?

Iklan

One thought on “Amuk murka penunggu pulau sempu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s