Minyak setan hasil tambang tradisional


Deru suara mesin truk terdengar sangat keras diantara pepohonan hutan jati di wilayah desa Wonocolo, seolah olah ada truk berjalan yang sedang memindahkan perseneling atau direm untuk berhenti. Sebuah timba yang dikaitkan dengan tampar besi besar dan panjang ditarik atau diturunkan ke dasar sumur minyak dengan bantuan lebih dari 200 meter kawat sling sebesar ibu jari yang ditarik oleh mesin truk kuno untuk menambang emas hitam dari dasar sumur minyak, itulah sedikit suasana sebuah penambangan Tradisional di daerah yang kaya akan sumber minyak.

cepu00-704x214

Cepu merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Blora, Jawa Tengahkuda jingkrak. Daerah ini memiliki luas wilayah sekitar 4.897,425 ha, dengan jumlah penduduk sekitar 77.880 jiwa tentu bukan daerah dengan kepadatan yang tinggi. Nama Cepu sebagai sebuah daerah sudah terdengar sejak zaman Panembahan Senopati (Raja Mataram I), tepatnya saat terjadinya perebutan puteri Madiun yang bernama Retno Dumilah. Ada juga kisah penamaan Cepu diambil dalam kisah Aria Penangsang, yaitu pada saat pertempuran antara Jipang Panolan dan Pajang di pinggiran bengawan Solo, alkisah ada seorang prajurit Panolan (ada kisah bukan prajurit biasa melainkan sang Aria Pengangsang sendiri) yang tertancap tombak di pahanya, dalam bahasa Jawa Tancap = nancep, paha = pupu, berasal dari dua kata tersebut maka muncul kata Cepu

 

Bila di tingkat nasional terjadi tarik-menarik kepentingan antara pemerintah, Pertamina, dan Exxon Mobil yang kecenderungannya dimenangkan kekuatan asing, lantas bagaimana dinamika yang terjadi di tingkat lokal? Seiring dengan dimulainya eksplorasi di Blok Cepu, masyarakat sangat berharap nasibnya menjadi lebih baik, namun banyak aral yang membuat mimpi sejahtera tak segera mewujud.

wono

Sebuah solusi untuk meningkatkan taraf kehidupan  adalah dengan membudidayakan / memanfaatkan keberadaan sumur tau peninggalan jaman kolonial Belanda. Sumur tua yang banyak keberadaanya di kedua Kabupaten tersebut sudah ditinggalkan oleh pertamina, karena produksinya sudah tidak menguntungkan atau tidak profit. Lain halnya jika pengelolaannya dilakukan secara tradisional oleh masyarakat sekitar sumur tua tersebut. Keuntungan finansial ada didepan mata, selain bisa mengurangi angka pengangguran di desa sekitar sumur tua.
wono2
Dengan pengelolaan secara tradisional, begitu juga dengan menejemennya, kenyataan bahwa pengelola ladang sumur minyak tua tersebut masih tetap eksis keberadaannya.  Di Blora sendiri ada sekitar 20 perusahaan/pribadi/koperasi yang masih bertahan mengelola sumur minyak tua, tersebar di sekitar desa Nglobo, Temengeng, Sambongrejo, Sambong, Nglebur dan Ledok.Di Bojonegoro cerita tentang sumur minyak tua malah ada yang lebih menarik lagi yaitu di Wonocolo, ladang sumur minyak tua di Wonocolo konon produksinya luar biasa. Bisa membuat pengelola sumur minyak tua Wonocolo yang sekaligus Kepala Desa setempat menjadi kaya raya, ketokohan dan kedermawanannya tidak diragukan lagi, ia bagaikan seorang raja kecil yang kaya dan dermawan di negeri sendiri, yaitu negeri Wonocolo.
wono7
Cerita menarik adalah pengelolaannya yang benar-benar tradisional, disitu diceritakan tenaga penarik tambang yang menimba latung (minyak mentah) sedalam 400 meter adalah tenaga manusia, setiap satu rit berarti manusia perkasa penarik tambang tersebut berjalan sejauh 400 meter bolak-balik. Padahal dalam satu hari dia bisa menarik sebanyak 100 rit, berarti manusia penarik tambang tersebut tiap harinya berjalan sejauh 40 Km, bahkan ada yang berjalan sejauh 60 Km tiap harinya, jarak antara kota Purwodadi – Blora, luar biasa!.
Lain dulu lain pula sekarang, saat ini  penambang sumur minyak tua sudah menggunakan mesin, biasanya menggunakan mesin truk tua yang sengaja didongkrok-kan. Truk buatan inggris yang lazim disebut “truk pesek”  dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menarik tambang yang menimba latung ke permukaan.
sumur-minyak-1 (1)
Truk yang saya maksud tidak memiliki 4 buah ban seperti layaknya sebuah truk biasa, tetapi hanya memiliki sebuah velek roda belakang yang telah domodifikasi dan digunakan sebagai katrol penggulung kawat sling untuk menarik timbaan yang dikaitkan dengan tampar (sebuah tabung besar dan panjang yang bergaris tengah sedikit lebih kecil dari pipa pengeboran minyak dan memiliki ventil pada bagian bawahnya) untuk mengambil minyak mentah dari dasar sumur minyak pada kedalaman sekitar 400 meteran.
Supir yang mengangkat dan menurunkan tampar dengan bantuan kawat sling melalui pipa pengeboran minyak hanya duduk sepanjang hari, menekan pedal gas atau rem berulang ulang untuk menurunkan atau menaikan garis kawat yang ditandai dengan sepotong kain kotor.
wono4.1
Ketika tampar ditarik dari dalam pipa sumur minyak, tampar dibiarkan menggantung di anjungan minyak sekitar 1 meter dari permukaan tanah, seorang pengawas yang berada di ruang kontrol di bawah menara anjungan minyak akan mendorong tampar dengan sebuah cagak kayu, supir akan menurunkan tampar kepermukaan bak penampungan sehingga ventil dibagian bawah tampar akan tertekan dan terbuka sehingga minyak bumi yang bercampur dengan air akan mengalir kedalam tempat penampungan yang kemudian langsung dialirkan melalui parit kedalam bak penampungan.
wono8
Timbaan dari dasar sumur yang terangkat tidak seluruhnya berisi minyak tetapi masih bercampur air.Untuk memisahkan minyak mentah dari air, penambang menggunakan cara yang tradisional pula, yaitu dengan memanfaatkan berat jenis minyak yang lebih ringan daripada air sehingga posisinya berada di atas dan minyak mentah cukup di ciduk dengan semacam gayung ukuran besar.
Proses berikutnya adalah mengisi minyak mentah kedalam jerigen berkapasitas 60 liter. Sisa minyak mentah yang masih mengandung air dari bak penampungan di bak pertama akan dialirkan kedalam bak penampungan berikutnya untuk kemudian di pisahkan lagi dari sisa kandungan air, proses ini berjalan sampai 3-4 kali, baru pada proses yang terakhir kalinya sisa minyak mentah yang sudah sulit dipisahkan dari kandungan air akan dibuang melalui sebuah parit ke sungai.

sumur minyak

Setelah latung (minyak mentah) dikumpulkan kedalam drum drum oleh pembeli latung dari tempat pengeboran minyak mentah tsb ada latung yang dibawa keluar desa Wonocolo dengan menggunakan motor sebagai alat transportasi, ada pula yang menyulingnya langsung tidak jauh dari areal pengeboran minyak tersebut.
Penyulingan latung dilakukan sangat sederhana dengan cara menggali dan membuat gundukan gundukan tanah. Di dalam gundukan tanah ini terkubur drum berkapasitas 200 liter. Penyulingan dilakukan dengan cara mendidihkan minyak mentah didalam drum dengan menggunakan kayu sebagai bahan bakar.
wono6

Uap panas dari minyak yang didihkan ini dialirkan ke bejana lain yang terhubung dengan pipa bergaris tengah lima sampai sepuluh sentimeter, pipa ini terletak dibawah sebuah bejana pendingin yang berisi air dan akhirnya uap tsb menetes sebagai solar atau lebih dikenal dengan nama minyak setan atau irek. Proses pengilangan minyak sederhana ini memakan waktu kira kira 4 sampai 6 jam. Sisa penyulingan adalah endapan aspal yang kemudian dikeringkan dan dimasukan kedalam karung karung, sayang saya tidak mendapat jawaban yang jelas untuk apa aspal kering tsb digunakan.

Perbedaan yang menyolok dengan solar yang diproduksi Pertamina dengan solar rakyat yang lebih dikenal dengan nama minyak “setan” adalah warnanya yang relatif lebih pekat dan kental. Minyak itu juga mengandung endapan kerak aspal.

Walau dalam pengurasan itu penambang sudah bisa mendapatkan minyak, jumlahnya relatif sedikit karena kotoran dan dan kandungan airnya juga masih banyak.
Setelah tahap pembersihan sumur ini selesai, baru penambang bisa mengais sisa sisa minyak dengan cara penambangan tradisional.
sumur
Anda dapat membayangkan bagaimana para pekerja tambang tradisional ini yang bekerja secara shift selama 24 jam menghirup udara lingkungan yang tercemar ini, apalagi jarang dari mereka yang menggunakan sepatu pelindung supaya tidak terpeleset kedalam bak penampungan minyak mentah.
Yang lebih gawat lagi adalah pembuangan sisa sisa minyak mentah ke air tanah dan parit. Dimusim hujan, sisa sisa minyak mentah akan lebih banyak yang akan mengalir bersama air hujan ke sungai sungai kecil.
Bau air sumur saya rasakan sendiri ketika saya terpelesat dan jatuh di parit yang bercampur air dan minyak mentah sehingga saya terpaksa harus membersihkan separuh pakaian dan badan saya dengan air sumur yang sudah tercemar.

Areal sekitar ladang minyak penuh dengan lubang lubang sebagai :

  • bak penampungan minyak,
  • bak bak untuk memisahkan air dari minyak mentah,
  • gundukan tanah sebagai tempat penyulingan minyak,
  • udara sekitar ladang minyak terkontaminasi dengan bau minyak mentah,
  • demikian pula air sumur di sekitar areal ladang minyak sangat berbau minyak mentah.
Iklan

One thought on “Minyak setan hasil tambang tradisional”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s