Politik ala warung kopi (Mari memiliki Indonesia)


Pagi ini sembari ngopi di sudut kantin sekolah di wilayah jakarta timur, saya mendengar obrolan ibu ibu yang mengantarkan anaknya, hehe sekarang rupanya ibu ibu bukan cuma jago ngerumpi tetangga tapi sudah mulai ngomongin politik, temanya apalagi kalau bukan yang lagi anget di jakarta ini, si AHOK.

teman ahok 1

Artis papan atas juga ngomongin si AHOK

Saya bukan orang politik apalagi mau ikut ikutan politik, dan ini ga ada hubungannya dengan dukung mendukung, hanya saja saya juga merasa gerah liat elit politik yang selalu merubah Undang Undang yang belum lama dibuat. Iya saat ini di elit atas memang lagi ramai dan panas membahas perubahan Undang Undang pemerintahan daerah, salah satu yang dibahas itu tentang persyaratan minimal yang diajukan untuk bisa maju menjadi calon indepent. Persyaratan yang makin memberatkan calon Independent ini, katanya sih ada indikasi buat menjegal salah satu calon yang rupanya lagi jadi favorite di suatu daerah.

Rupanya partai politik yang membahas ini mulai ketakutan akan ditinggalkan kontituennya karena sudah tidak dipercaya sama Rakyatnya. Independent menjadi jalur pilihan bagi rakyat yang sudah tidak mempercayai Gerbong yang membawa wakil rakyatnya.

Ada juga yang ketakutan dan mengambil dalil dalil buat ngehantam calon perseorangan, jawablah dengan jujur. “Mana yang lebih kita sukai di antara dua orang teman, satunya seagama dengan kita tapi perilakunya zalim (jahat) dan lainnya beda agama tapi berlaku adil (baik)? Atau bila kita muslim, mana teman yang lebih kita sukai, non muslim yang adil, atau muslim yang zalim?

Jurang ketimpangan juga bisa dilihat dalam praktek kepemimpinan di hampir seluruh lembaga, menjadi ironis dan paradoks bagaimana bisa Departemen Agama bisa disinyalir sebagai lembaga terkorup. Al Qur’an pun dikorupsi! Menteri agama korupsi. Ulama korupsi.

 

Yang cukup menarik Jalur Independent ini rupanya sangat lihai untuk bisa merebut simpatik para pendukungnya, terutama kalangan anak muda yang rajin nongkrong di Mall, mereka buka both sebagai jemput bola dukungan, juga melalui media online buat para pekerja yang sibuknya depan komputer, dan buat para pemburu merchandise keren keren juga nih buat koleksi.  teman ahok 3

Lalu yang di warung kopi ? Harapan bagi pengopi cuma pada harapan bagi umat di Indonesia untuk merefleksikan diri dan  membuktikan sebagai umat terbaik (khairu ummah) dalam praktek nyata, bukan iman retorika dan sekadar rasa bangga. Seruan dengan perilaku (da’wah bilhaal), jauh lebih efektif daripada seruan dengan lisan (da’wah billisaan).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s