Rasa takut


 

Tidak sedikit orang yang akhirnya malah hancur, karena gak bisa berdamai dengan perasaan takut yang dia punya

Selamat pagi jiwa, masih pagi ini saya menikmati  kopi pahit tanpa gula bukan karena takut kena diabetes tapi saya takut semakin terlena oleh manisnya dunia. Takut, pagi ini menjadi tema obrolan di dalam group whatsapp  keluarga selepas shubuh.

Terkadang kita begitu takut. Takut dari semua yang bisa salah…dan semua yang bisa hilang. Tapi dalam ketakutan yang melemahkan kita, fokus kita pun turut hilang, lalu apakah kita tidak boleh mempunyai rasa takut ? 

Subhanallâh! Kita sepantasnya takjub dengan rasa takut Rasul kepada Allah. Bayangkan, Rasul adalah kekasih-Nya, penghulu ahli surga. Allah mustahil mengazabnya. Namun, rasa takut kepada Allah sering menyelinap dalam batin Beliau di saat-saat awan mendung dan angin kencang.

Para Sahabat adalah juga orang-orang yang paling takut kepada Allah setelah Rasul. Padahal mereka telah dijamin masuk surga. Demikian pula para tâbî’în dan generasi sesudah mereka. Kebanyakan mereka adalah generasi yang mengisi hari-harinya dengan amal-ibadah. Namun demikian, rasa takut mereka terhadap Allah SWT begitu luar biasa.

Rasa takut itu hal yang wajar. Terkadang membuat jauh berkembang, namun rasa takut bisa saja malah menjatuhkan dan seolah membuat tidak mampu apa apa.

“If I keep worrying about my future, how will I be able to enjoy my present?”

Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallammengajarkan sebuah doa

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami” (HR Tirmidzi dan Hakim).‎

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s