Siapa sebetulnya teman kita ?


“Aku mempunyai banyak teman namun tak satupun dari mereka yang pernah menanyakan keadaanku, sekalipun itu sahabatku. Aku bertanya tanya, apakah aku telah membuat kesalahan. Dan ternyata kesalahan terbesarku adalah pernah menganggap mereka sebagai sahabat” – True

Suasana masih pagi, warung kopi yang saya datangi hanya ada satu pengunjung yang datang sedang menikmati kopi hitam, jarum jam menunjukan pukul  07.10 menit saat saya sampai di daerah  Klender jakarta Timur. Seperti biasa saya memang lebih prepare datang lebih awal jika sudah ada janji pertemuan, buat saya lebih baik menunggu daripada ditunggu apalagi oleh calon customer, namun bukan karena itu juga datang lebih awal  karena malas menghadapi kemacetan Jakarta saat orang orang mulai berangkat ke kantor.

Sambil  memesan segelas kopi hitam yang tidak pakai susu ,  Sebuah  berita selebritis yang ditayangkan oleh stasiun televisi, rupanya mengangkat berita salah satu selebritis yang sedang merasakan dinginnya menginap di hotel prodeo meski  masih dalam status tahanan karena kasusnya belum disidangkan atau sedang disidangkan, saya tidak mengikuti beritanya, iya tadinya saya tidak memperhatikan pada apa yang diberitakan namun, ketika nara sumber menyanyikan sebuah lagu saya pun terhenyak, begini liriknya:

Mencari teman memang mudah, ‘Pabila untuk teman suka, Mencari teman tidak mudah, ‘Pabila untuk teman duka ………
Banyak teman di meja makan; Teman waktu kita jaya; Tetapi di pintu penjara; Di sana teman tiada ……… – Sahabat – Rhoma Irama

Sesaat saya terpaku pada lagu yang dia nyanyikan dengan (saya yakin) perasaanya yang paling dalam, jeritan hatinya karena sedang susah dengan menjalani masa tahanan dan hatinya teriak kemana teman temannya yang selama ini dugem bareng, ke pesta bareng, makan makan bareng,  kongkow bareng ? seakan semuanya lenyap tenggelam dalam kesibukannya masing masing.

Bicara kesibukan setiap orang mempunyai kesibukan masing masing yang tentunya tidak akan sama, bahkan ada yang mencari kesibukan karena memang kurang nya hal hal yang bisa dia kerjakan. Sembari ngopipun saya sibuk memencet tombol tombol sibuk dengan yang entah ada dimana, tanpa mempedulikan orang disebelah saya yang masih menikmati kopi hitamnya.

Yah inilah yang biasa kita (elo aja kali.. ) lakukan technologi mendekatkan yang jauh dan mengesampingkan teman bincang yang ada di sebelah, padahal umumnya warung kopi itu menjadi tempat hangat (kompor kali)  untuk ngobrol ngalor ngidul dari soal politik sampai persoalana yag lagi ramai saat ini, termasuk ngobrolin artis yang nyanyi tadi.

Ketika artis itu susah, ketika kita susah dan tidak ada teman yang menguatkan, sebetulnya tidak harus kita menyalahkan mereka, ingat seorang teman yang masuk dalam kehidupanmu, berperan dalam aktivitas keseharianmu, jangan pernah berekspektasi lebih. Cukup berbaik sangka dan berbuat baik padanya atau kau akan menyesal.

Karena sesungguhnya : Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: pada waktu dibutuhkan, sikap di belakang anda, dan setelah kematian Anda. —  Ali ibn Abi Thalib

Jadi kita ini teman ataukah hanya sekedar kenalan ?

coba sudah berapa lama kita tak berbincang? Apa yang kau tahu tentang saya yang sekarang? Hari ini saya lebih banyak bersedih atau senang ?

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s