Goresan juang menyambut kemerdekaan 17 – 71


“Jangan menjelekan orang baik, Jangan membaikan orang yang jahat, Jangan berbuat aniaya terhadap rakyat banyak ” – Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro 1825

Diponegoro atau Raden mas Antawirya (Baca : Ontowiryo) merupakan putra sulung Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama RA Mangkarawati, yang berasal dari Pacitan.

Besarnya pengaruh Belanda di Surakarta dan Yogyakarta pada permulaan abad 19, khususnya di wilayah Yogyakarta, telah menimbulkan kekecewaan di kalangan kerabat keraton yang kemudian berakibat pada perlawanan dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Pertempuran pertama dan tercatat dalam sejarah adalah pada tanggal 25 Juli 1825 di tegalrejo. Kabar pecahnya perlawanan terhadap Belanda ini terus menyebar hingga menimbulkan semangat semangat perlawanan di berbagai Daerah lainnya dengan dikumandangkannya semangat perang sabil, diantara oleh Kyai Mojo dan Kyai Hasan Basri.

Melihat hal ini Belanda yang sangat licik dengan segala tipu daya mencoba untuk mengelabui Pangeran Diponegoro, akhirnya satu per satu pemimpin perlawanan tertangkap dan menyerah, antara lain Pangeran Suryamataram dan Ario Prangwadono (tertangkap 19 Januari 1827), Pangeran Serang, dan Notoprodjo (menyerah 21 Juni 1827, Pangeran Mangkubumi (menyerah 27 September 1829), dan Alibasah Sentot Prawirodirdjo (menyerah tanggal 24 Oktober 1829).

Goresan-Juang-Kemerdekaan-1
Lukisan ditangkapnya Pangeran Diponegoro

Goresan juang 17 – 71

Lukisan ditangkapnya Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang menceritakan sejarah perang Kemerdekaan merupakan salah satu dari 28 Koleksi Istana Negara yang dipamerkan dalam sebuah pameran menyambut HUT Kemerdekaan RI dengan bertajuk “GORESAN JUANG KEMERDEKAAN 17 -71”.  Pameran yang berlangsung dari 1 – 30 Agustus 2016 ini, di buka langsung oleh Bapak Presiden RI Joko Widodo, di gelar di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Selain 28 lukisan terpilih, Istana juga menampilkan 100 foto-foto kepresidenan dan sembilan buku yang menceritakan tentang lukisan di Istana.

Goresan juang pertempuran pengok
Goresan Juang Pertempuran pengok karya kartono Yudhokusumo

 

Pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan­ melalui Galeri Nasional Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, dan Mandiri Art tersebut merupakan pameran yang pertama kalinya diselenggarakan sejak Indonesia merdeka.

Pada pameran kali ini untuk memudahkan pengunjung memahami sejarah perjuangan, dibagi dalam tiga kategori :  1. Potret tokoh penting perjuangan kemerdekaan Indonesia, 2. Kondisi sosial masyarakat masa revolusi, dan 3. Jejak perjuangan dari masa penjajahan Belanda hingga tahun 1950 atau disebut Kenusantaraan.

Lokasi Galery Nasional

Seringkali event pameran yang mengangkat karya karya maestro terkenal hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu karena mahalnya tiket masuk, untuk goresan juang 17 – 71 kemerdekaan, pengunjung tidak dikenakan tarif masuk (tiket) alias gratis. Namun mengingat banyaknya lukisan yang bersejarah ini tenntunya perlu kearifan pengunjung bisa menjaga ketertiban dan kelestarian karya sen bangsa ini dengan tidak menggunakan blitz atau sinar kamera saat berselfie ria karena bisa mempengaruhi karya seni tersebut, disamping itu juga dilarang menggunakan tongsis mengingat resiko menyenggol lukisan sangat besar.

lokasi galeri nasional
Lokasi Galeri Nasional 

Untuk menuju galeri nasional sangat mudah, bisa diakses dengan menggunakan kendaraan busway dan turun di stasiun gambir, karena lokasinya di seberang stasiun gambir berderetan dengan kantor kementrian perikanan yang dulunya merupakan gedung timor. mengingat terbatasnya ruang parkir di dalam galeri, tentunya demi kenyamanan pengunjung sendiri tidak membawa mobil pribadi, gunakanlah kendaraan umum yang sudah disediakan pemerintah sekaligus juga mengurangi kepadatan kendaraan di jakarta.

Yang juga menarik dari adanya pameran goresan juang ini, juga telah dirilis permainan game yang bisa dimainkan mirip game yang sedang ngetrend pokemon go. Dalam game ini ada dua mode offline dan online. Untuk online game dimainkan dilokasi pameran disini kita perlu mengaktikan gps handphone kita, sama seperti ketika kita berburu pokemon. dan mode offline bisa dimainkan dimanapun namun kita perlu mendowload katalog koleksi pameran, dan memainkankannya kita dengan menscan gambar yang ada dikatalog. permainan perjuangan yang sangat menarik dan menyemangati jiwa menyambut HUT Kemerdekaan RI 71.

Mode game goresan juang
Mode game goresan juang 17 – 71

Daftar Koleksi goresan juang 17 -71

Berikut adalah  daftar dari  koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang ditampilkan sebagai berikut:
1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946
2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10. S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18. Soerono, Ketoprak, 1950
19. Ir. Sukarno, Rini, 1958
20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjinsing, 1949
27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s