Perjalanan tanpa akhir di koto nan gadang #1


Seorang pernah berkata, perjalanan yang baik itu adalah  perjalanan yang tidak hanya sekedar berjalan, tidak hanya sekedar menikmati perjalanan, tidak hanya ingin mengikuti perjalanan atau hanya karena ingin sampai ke tujuan. Namun, perjalanan yang dapat membuat kita terus belajar. Belajar pada alam, pada adat istiadat dan belajar pada sejarah masa lalu yang mana perjalanan inilah yang membuat kita bisa  lebih dekat padaNya. Ini adalah kisah perjalanan di koto nan gadang, kota yang penuh akan cerita hikayat dan legenda yang hingga kini masih terasa nyata dan dirasakan masyarakat sekitarnya.

Salamaik datang di ranah minang koto nan gadang

Jpeg

Kota Padang saat pagi mulai beranjak datang

Langit terlihat merah ketika senja mulai datang, matahari sore masih terlihat terang menyisakan sinarannya menerangi lembah dan lereng lereng perbukitan, warna merahnya terlihat buram disepanjang sungai, sekelompok pemuda tampak sedang bermain sepak raga di sebuah tanah lapang pada sebuah kampung yang terletak di sebuah lembah tidak jauh dari bukit tinggi. Seorang pemuda tampaklah dengan sigap dan lincah mempermainkan bola yang terbuat dari rotan di kakinya, satu dua tiga bola itu terus dia mainkan sebelum akhirnya disepak ke lawannya yang terlihat sudah siap menanti, namun untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, lawannya tak siap menerima sepakan dari pemuda tersebut, ketika hendak menyapu bola rotan tersebut kakinya tergelincir dan “bummm” terjerembab seperti buah kelapa jatuh dari pohonnya.

Roman Sengsara membawa nikmat, yang diangkat ke layar kaca oleh sebuah stasiun televisi karya Sutan Sati inilah yang membuat saya mulai jatuh cinta pada roman roma yang bernuansa minagkabau, ada Siti Nurbaya dan Tenggelamnya kapal van derwick yang merupakan roman cinta kasih tak sampai, hingga legenda kedurhakaan seorang anak manusia si Malin Kundang, dan masih banyak karya karya yang penuh dengan hikayat hidup dan pesan moral serta gambaran indahnya ranah minang membuat hati siapapun ingin menapakan kaki dan menjelajah segala isinya.

lembah-harau

Lembah Harau kota Payakumbuh

20160918_093451

Pulau Pasumpahan

20160918_094330

Narsis ah biar kaya orang orang di pulau Pasumpahan

Menjelajah Sumatera barat berarti menjelajahi keindahan dan kekayaan alam, adat istiadat, sejarah dan kulinernya yang menggoda selera. Alamnya yang asri dan sejuk menjadikanya daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Wisata alam di Bumi Minang ini sangatlah beragam dari pantai, ngarai hingga gunung berapi. Beberapa destinasi pantai yang saat ini ngetrend di kalangan para pecinta jalan jalan diantaranya, Pantai Pasumpahan, Pantai pamutusan, Pantai Suwarnadwipa dan masih banyak lainnya, (sabar yah nanti akan dituis disini kok). Selain pantai, ada juga ngarai Sihanok, lembah harau dan lainnya, untuk gunung, para pendaki saat ini favorite adalah gunung talang, meski buat saya Marapi lebih menggoda.

Sebagai petouring, menyusuri jalanan yang berkelok menyusuri lembah dan lereng perbukitan akan memacu adrenalin para petarung jalanan, seperti yang dilakukan para road warriors saat melakukan ‘The Lost Adventure’ mengunjungi Sumatera Barat, terutama mengunjungi Padang dan Bukittinggi sama halnya membaca sebuah roman karya penulis kebanggan bangsa.

Segala hal tentang perjalanan ke Padang

Perjalanan darat lintas pesisir barat

Banyak jalan menuju Roma, sama halnya banyak jalan menuju koto nan gadang. Kota Padang yang terletak di  Pulau Sumatera bagian barat yang menghadap Samudera Hindia ini dalam sejarahnya sangatlah strategis sehingga mudah dicapai dari mana saja, baik akses darat, laut dan tentunya udara.

111816_krui13

Panorama laut terlihat dari jalanan yang berbukit

Bagi saya yang sangat gemar melakukan touring, lintas darat  menjadi favorite perjalanan seperti saat saya menjelajah lombok dan kota lainnya.  Perjalanan dari Jakarta untuk ke kota Padang dari jalur darat, kita sebelumnya harus menuju kota Merak untuk selanjutnya menggunakan Kapan Fery menyeberang ke Bakauheni Lampung, disini sangat dianjurkan kita memulai perjalanan dari Jakarta malam hari untuk menghindari kemacetan Ibukota dan ketika sampai di Kota lampung hari sudah terang. Kita semua sangatlah paham bagaimana karakter Lampung yang identik dengan kekerasan, meskipun itu dilakukan oknum masyarakat tapi berjaga jaga saat dalam perjalanan itu lebih baik. Dari Bakauheni perjalanan lintas barat menuju Kota Krui disini kita bisa menikmati keindahan pantai Lovina, jika beruntung disini akan terlihat lumba lumba berenang dilaut, kalau berenang di darat itu buaya darat :).

Jpeg

Penginapan di pantai Lovina Krui Lampung

Jalan lintas barat Lampung Krui ini sangatlah elok, akses jalan yang sudah bagus dan mulus penuh dengan kelokan, terkadang disini kita tergoda memacu kendaraan lebih cepat, namun perlu waspada karena disini jalanan penuh dengan kelokan, apalagi disini kita akan melintasi lereng Taman Nasional Bukit Barisan selatan. Hamparan perkebunan kelapa sawit bisa kita nikmati selama perjalanan, tentunya akan menjadi pemandangan tersendiri dan terkadang disini akan melintas binatang binatang yang tentunya sangat berbahaya jika kita tidak waspada. Saat di Krui kita tidak perlu khawatir jika memang kemalaman, karena di sini, sepanjang pantai lovina banyak penginapan dan bagi penggemar surfing, ombak lovina sangatlah menggoda.

Dari Krui perjalanan selanjutnya kita akan melintasi kota Bengkulu, sepanjang lintasan menuju kota ini kita masih disuguhi panorama pantai yang sangat indah, namun karena merupakan daerah perbukitan resiko tanah longsor disini sangat besar. Seperti saat saya melakukan perjalanan ini, di tengah perjalanan kita harus meenghadapi medan lumpur yang tebal bekas tanah longsor yang menutup akses satu satunya.

Sejak jaman penjajahan Belanda, kota Bengkulu ini merupakan kota untuk membuang para tahanan politik yang menentang penjajah, setelah dibuang dipulau ende,  Flores. Jangan dibayangkan kondisi kota Bengkulu dulu dan sekarang, tentunya sangat jauh berbeda, karena dulunya kota ini merupakan kota terpencil dan jauh dari keramaian. Di kota Bengkulu ini, kita bisa manapak tilasi perjalanan Bung Karno yang pernah dibuang dikota ini,  dan dikota inilah Bapak proklamator kita berkenalan dengan Ibu fatmawati.

Konon pada satu ketika, di rumah pembuangannya di Bengkulu ini, Bung Karno kedatangan  keluarga Hassan Din, tokoh Muhammadiyah asal Curup, Rejang Lebong. Gadis belia putri Hassan Din, yakni Fatmawati dibawa pada saat itu. Fatmawati kemudian menjadi sahabat Ratna Djuami, mereka sama-sama bersekolah di sekolah katholik di Bengkulu, RK Vakschool Maria Purrisima. Singkat cerita, Bung Karno menaruh hati pada Fatmawati dan akhirnya menikahinya.

Perjalanan selanjutnya kita akan melewati sebuah kota Kabupaten yang merupakan pemekaran dari Benglu utara yaitu Kabupaten Muko muko, kota ini terlihat kecil namun mempunyai lapangan udara sendiri, hanya saja pesawat yang kesini masih merupakan pesawat perintis yang memuat beberapa penumpang, umumnya digunakan oleh perusahaan pertambangan minyak yang mengexplorasi di daerah ini.

Jpeg

Bukit jengkol dengan pemandangan pelabuhan Teluk Bungus

Kota Bengkulu bisa jadi merupakan pintu masuk ke kota Padang melalui pesisir barat, karena dari sini kita sudah mendekati koto nan gadang dengan melalui kota Painan. Menuju kota Padang pemandangan pesisir barat padang sangat mempesona, dari sini kita bisa menikmati keindahan pantai carocok, teluk bungus, hingga pelabuhan teluk bayur. Panorama keindahan dan keramiaan pelabuhan teluk Bungus juga bisa kita nikmati dari ketinggian bukit jengkol, heh entah kenapa dinamakan bukit jengkol, karena saat disini saya tidak melihat pohon jengkol.

dan akhirnya sampailah kita dikota Padang, yang saat terjadi gempa tahun 2010an hancur lalah lantak terkena goncangan dahsyat, namun saat ini kota Padang sudah bangkit dan membangun negeri.

Perjalanan lintas udara

Saat ini Sumatera Barat tepatnya kota Padang sudah mempunyai bandar udara sebagai pintu gerbang melalui udara, Bandara Internasional Minangkabau, konon merupakan yang pertama didunia yang menggunakana nama etnik sebagai nama identitas bandara, dan letaknya tidak jauh dari ibukota propinsi Kota Padang. Yang lazimnya di bumi minang ini, bentuk bangunan di bandara ini juga menggunakan atap bangunan seperti rumah gadang yang ada di ranah minang, ini tentunya menambah keelokan tersendiri.

Jpeg

Lembah Anai terletak di jalan raya menuju Bukittinggi

Sesaat seetelah tiba di bandara, jika kita tidak punya sanak keluarga disini tidak perlu khawatir untuk pergi ke kota padang, karena angkutan damri disini sudah tersedia, untuk ongkos sepertinya hampir sama jika kita menggunakan damri dikota Jakarta. Namun jika kita hendak langsung ke Bukittinggi bisa langsung menggunakan travel mobil yang berkapasitas 6 orang seperti Avanza (bukan iklan). Rental mobil ini bisa kita jumpai begitu keluar dari bandara akan terlihat counter ‘sewa avanza’ untuk harga tidak usah khawatir karena menggunakan tarif resmi. Dari Bandara ke Bukittinggi harga sewa yang dipatok sebesar Rp 295.000,- itu sudah termasuk supir dan bensin, kita tinggal duduk manis menikmati pemandangan alam.

Salamaik datang di koto ombak nan badabuo

 

Iklan

6 thoughts on “Perjalanan tanpa akhir di koto nan gadang #1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s