Pesona Karimunjawa : Dari perburuan 'ngoto' hingga legenda batu pengantin


Matahari bulan mei terasa sangat menyengat dikulit, membakar kulitku yang memang sudah hitam dan bercampur lumpur dari lokasi pengeboran. Kejenuhan pada aktivitas keseharian sudah sangat dirasakan, namun untuk kembali pergi touring melintasi jalanan aspal dari satu kota ke kota lain belum memungkinkan, mengingat proyek didepan mata sudah menunggu dan perlu segera persiapan matang. Tidak bisa touring bukan berarti  tidak bisa alternatif lain, seperti kata mbah mukidi ‘tak ada rotan akarpun jadi’ ora iso touring yo saiki backpakeran saja.

camping-ground-1
Lokasi camping ground diats Bukit cinta

Setelah menimbang dengan saksama dan dalam waktu yang sesingkat singkatnya, karimunjawa menjadi pilihan untuk melepaskan gundah gulana dan jenuh dihati, dengan kabar angin yang berhembus juga menyatakan, bulan mei sangat bagus kalau ke karimunjawa, jika beruntung kita bisa melihat lumba lumba yang ikut berkejaran dengan kapal, kalau tidak beruntung kita yang akan berkejaran dengan sapi. Namun, trip kali ini bukanlah sekedar untuk menikmati snorkeling saja, itu sudah terlalu minstream dengan ke lokasi lokasi yang itu itu saja, kali ini saya akan mencoba mengeksplorasi (bener gasih bahasanya__) aktivitas yang belum banyak dilakukan di Pulau karimunjawa, apa itu ? Berburu Ngoto dan  Ziarah ke makam Sunan Nyamplungan, namun tentunya snorkeling juga. 

Perjalanan ke Karimunjawa

Perjalanan kali ini saya menggunakan kendaraan umum dengan pertama menuju kota Semarang, menaiki kereta api cepu expres. Jangan protes …. iya bener, saya memang dari cepu bisa langsung ke Jepara melalui Pati atau Ke Kudus. Setelah sampai di Stasiun Tawang Semarang, dengan menaiki angkot yang lewat tidak jauh dari Stasiun saya menuju Terminal Terboyo, ongkos saat itu masih Rp 3000,- an dan lebih baik kita turun sebelum angkot masuk ke dalam terminal, minta turun di perempatan karena akan melanjutkan perjalanan lagi ke Kota Jepara. Loh kenapa ga didalam, seperti umumnya angkot yang ngetem, lebih banyak yang langsung berputar tidak masuk terminal dan akan lebih menyingkat waktu.

Untuk ke Jepara, bus yang digunakan umumnya memakai bus kecil, cukup banyak bus tujuan ini namun tidak 24 jam, meskipun jika beruntung pada jam dini hari sering juga masih ada yang berangkat ke Jepara. Perjalanan dari Semarang ke Jepara cukup melelahkan, bisa mencapai 4 jam perjalanan, ogkos perorang sekitar Rp 11.000,- tapi kalau tengah malam keneknya minta Rp 20.000,-. Wajar sih kalau malam penumpang sangat jarang dan lagiula jauh jarak yang ditempuh mencapai 80 – 90 km. Namun sebetulnya bagi pejalan atau backpaker, jika memang masih ada waktu bisa mampir ke Demak untuk berwisata Rohani ke Masjid Agung Demak atau juga bisa ke Menara Kudus, sebelum akhirnya kita menuju Jepara.

peta
Peta jarak dan jalur yang dilewati dari Semarang – Jepara

Sesampai di terminal Jepara, bukan berarti perjalanan selesai karena dari terminal kita masih harus menuju pantai Kartini,… loh kok ke pantai ? iya, karena lokasi Pelabuhannya itu di  dekat lokasi wisata pantai Kartini yang terkenal, jadi tidak usah khawatir jika sesampai di Jepara ternyata jadwal kapal yang akan membawa ke Karimunjawa maih keesokan harinya, di Pantai Kartini banyak tersedia hotel yang murah dan langsung dekat pantai, menikmati senja di pantai pastinya akan romantis apalagi sama pasangan.  Untuk menuju Dermaga kita bisa menggunakan becak dengan biaya Rp 10.000, – atau jalan kaki biar sehat jaraknya dekat sekitar 2km, masih kalah sama ke puncak mahameru.

dermaga
Tuhkan di papan petunjuk dermaga sama pantai sejalur 

Sebetulnya untuk Ke Pulau Karimunjawa kita bisa juga langsung dari Semarang, bisa dengan Kapal Express atau Fast Air atau pesawat kecil dengan jumlah penumpang terbatas.  hanya saja kebanyakan backpaker lebih suka lewat Jepara mengingat harga tiket Kapal Expres tidak sesuai dengan backpaker.

jadwal-kapal-karimun-jawa1
Jadwal Kapal yang menuju Karimunjawa

 

Dari camping ground hingga berburu ngoto

Selamat datang di Pulau Karimunjawa, sebuah gerbang besar akan menyambut kita begitu turun dari Kapal, akhirnya setelah 4 jam di dalam kapal bisa menjejakan kaki di bumi lagi, lebay yah tapi memang begitu, akan terasa sangat jenuh saat kita diatas kapal dan begitu turun serasa merdeka !!

Sebuah mobil pick up yang sudah dipesan menanti menanti di depan pintu keluar dermaga, yang selanjutnya megantarkan kita ke lokasi camping ground. iya benar, untuk trip kali ini saya memang tida menyewa homestay sebagai tempat bermalam, dengan lokasi dipinggiran hutan lindung karimunjawa, iya benar hutan ga salah baca atau tulis kok, lokasi yang saya ambil memang persis di pinggir Kawasan hutan Karimunjawa, lebh tepatnya di Bukit Cinta, kerenkan namanya.

love1
Bukit cinta lengkap dengan kata “LOVE”

Dibukit ini sudah disediakan area camping ground, tinggal kita bawa tendanya sendiri namun kalau ga mau di tenda, ada home stay yang siap dipakai dengan nyaman lebih romantisnya lokasinya langsung menghadap ke pantai nun jauh disana. Disini sangat cocok untuk melihat sunset dari atas bukit.

camping-ground
Semburat senja diatas bukit cinta

Sambil menunggu waktu sore yang sudah kita rencanakan untuk berburu ngoto, masih ada kesempatan untuk snorkeling di pantai ujung gelam. Pantai ujung geam sebetulnya tidak jauh dari lokasi camping ground, letaknya persisi dibawah kaki bukit, namun karena sudah ada mobil pick up yang kita sewa, lebih enak naik mobil.

Dipantai ujung gelam, aktivitas yang dilakukan lebih banyak adalah snorkeling, masih cukup bagus terumbu karang disini dengan aneka ragam ikannya, meskipun tentunya tidak sebagus kalau kita snorkeling di pulau sekitar karimunjawa seperti menjangan kecil atau menjangan besar. setidaknya untuk pemansan sudah cukup memuaskan dan disini jika lelah kita bisa santai minum kelapa muda atau ngopi di warung warung yang sudah banyak berjejer di pinggiran pantai.

ujung-gelam
Aktivitas mainstream meloncat saat foto di lokasi Pantai ujung gelam dengan background senja 

Setelah puas menikmati pantai ujung gelam, selanjutnya kita menuju Desa kemujan untuk melakukan tracking di Batulawang, untuk sebuah petualangan yang menarik serta menantang. Lokasi ini terletak di utara Pulau Karimun Jawa. Seperti jalan setapak, pemandangan pohon – pohon besar juga medan yang menanjak serta tebing terjal, sehingga memacu adrenalin, bukan hanya sekedar menikmati tracking yang menantang. Menjelang malam disekitar area hutan akan keluar binantang binantang yang disebut “Ngoto’ atau kepiting darat keluar untuk mencari makan, disinilah keseruan berburu ngoto dimulai. Dengan berbekal sinar lampu senter, rombongan menyorotkan ke lobang lobang diats lumpur dan mengumpulkan kepiting darat. Karena lokasinya di dalam hutan dan suasana gelap tentunya akan menambah mencekam namun sangat seru, ditambah lokasi yang penuh dengan legenda dan mitos yang hingga kini masih sangat kuat dipercaya masyarakat sekitar.

karimunjawa21
Persiapan tracking dan berburu ngoto

Berikut adalah ngoto atau kepiting darat hasil perburuan :

jawa
Menikmati makan malam setelah lelah berburu

Legenda Batu Lawang dan penganten muksa

Birunya laut tentunya menjadi pemandangan yang sangat  eksotis ditambah luasnya hamparan air laut hingga tebing- tebing tinggi juga batu karang yang diterjang ombak, menambah menarik  lokasi tracking di area batulawang ini.
Pintu gaib Gua Pertapaan, Situs Pamojan, Kapal Batu, Gua Jepang, Lorong Cinta, dan Batu Pengantin merupakan rute yang menjadi pemandangan yang cukup menciutkan nyali, dengan suasana temaram dan heningnya alam sayang jika dilewatkan begitu saja. tersebut.
goa-pertapaan
Pintu Ghaib Goa pertapaan
Menurut warga sekitar, Pintu gaib Gua Pertapaan merupakan tempat berkumpulnya makhluk gaib dan banyak orang yang datang untuk bertapa. Bagi orang yang mempunyai indra keenam dapat melihat pintu gaib. Setelah Gua pertapaan terdapat gua yang dinamakan gua jepang, gua ini merupakan tempat persembunyian tentara Jepang. Bebatuan karang yang hancur disekitar gua dan gua tersebut terendam oleh air laut sebagai bukti bom belanda, saat sekarang gua ini sebagai tempat sarang burung walet.
kapal-batu1
Kapal Batu

Selain itu, juga terdapat Batu kapal yang menurut legenda ada keterkaitan dengan batu pengantin yang terdapat di tengah laut. Batu Kapal tersebut berukuran besar dan berbentuk persegi.  Dibalik besarnya batu pengantin ini terdapat kisah tentang seorang pengantin yang melarikan diri ke Batu Lawang, sekitar 200 sebelum Masehi, Pengantin tersebut duduk disebuah batu dan datang lelaki tua yang berjenggot yang dipercaya masih ada hingga sekarang oleh masyarakat setempat, pengantin tersebut akhirnya mati tidak diketahui jasadnya atau “muksa”.

Sedangkan yang menjadi saksi bisu dari cinta sejati kedua pengantin tersebut dikutuk dinamakan lorong cinta. Kono saat kita melewati lorong cinta ini dianjurkan untuk menahan nafas dan berdoa agar Tuhan mengabulkan.
“dan Hanya ALLAH yang Maha Mengetahui
Hari sudah beranjak malam, suara jangkrik menambah irama malam ditengah hutan Batu lawang, bayangan bayangan gelap mulai menghampiri dan menarik tangan kita untuk segera keluar dari area hutan dan selanjutnya pulang ke lokasi camping, dan esok hari petualangan baru telah menati dari dikejar sapi hungga ziarah ke makan sunan nyamplungan.

 

Iklan

One thought on “Pesona Karimunjawa : Dari perburuan 'ngoto' hingga legenda batu pengantin”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s