Jelajah Museum : Pemuda dan perannya dalam (menulis) sejarah


‘Apa sih yang bisa di explore di jalan kramat ? Pertanyaan itu saya rasa akan umum bagi sebagian orang mempertanyakannya, terutama bagi yang sering melewati Jalan Kramat Raya setiap hari yang selalu macet. Ada apa di Jalan Kramat Raya ?

Seperti yang sering orang katakan, perjalanan yang baik itu adalah  perjalanan yang tidak hanya sekedar berjalan, tidak hanya sekedar menikmati perjalanan. Namun, perjalanan yang dapat membuat kita terus belajar. Belajar pada alam, pada adat istiadat dan belajar pada sejarah masa lalu yang mana perjalanan inilah yang membuat kita bisa semakin dewasa dalam menyikapi segala hal.

bengkel-cat-duco
Bengkel cat duko sepanjang Jalan Kramat Raya

Kali ini sebagai pejalan (petouring), rasanya tidak lengkap jika menyusuri Jejak tapak HW Daendels hanya selesai di Panarukan saja. Tidak banyak pemuda sekarang yang tahu, kalau sesungguhnya Jalan Raya Kramat merupakan bagian dari proyek besar yang menghubungkan Anyer – Panarukan bukan hanya itu saja, di Jalan Raya tersebut juga menjadi saksi kebangkitan nasional juga titik buram perjalanan bangsa.

Menyusuri Jalan Kramat Raya

Jalan ini merupakan satu ruas jalan pos yang dibangun dengan sistem kerja paksa pada masa Daendels dari Anyer hingga Panarukan, dalam rangka mempertahankan kekuasaan di Jawa dari serbuan tentara Inggris. Di sepanjang jalan yang banyak dijumpai para penjual jasa cat duko ini, juga mempunyai andil dalam sisi kelam perjalanan bangsa, begitu penjelasan pembuka yang disampaikan oleh mas sofian, guide jelajah museum yang diadakan oleh komunitas anak anak muda para pecinta sejarah dan museum juga para blogger yang tergabung di Backpaker Jakarta.

gedung-biro-pki
Banguna bekas kantor biro PKI ( sumber : Google)

Menurutnya,  di Jalan Kramat raya ini pada tahun 60an berdiri kantor biro partai komunis indonesia. Keberadaan bekas kantor ini bahkan masih menjadi bahan perbincangan hangat, mengingat belum lama ini telah diadakan simposium tentang partai komunis indonesia dan korban. Bahkan Mayor Jendral (Purn) Kivlan Zein dengan keras menyatakan, Partai Komunis Indonesia telah bangkit kembali, bahkan telah membentuk struktur partai dari pusat hingga daerah.

Kantor yang terletak di Jalan Kramat V ini, memang sudah beberapa kali berganti penghuni setelah tahun 1965 diserbu tentara dan diporak porandakan isinya, namun lokasi ini masih menjadi kontroversi bahkan dilokasi ini juga dipasangi kamera cctv. Sebuah pertanyaan menggelitik, apakah roh penunggu bekas kantor biro ini akan bangkit dan mendoktrin dengan paham komunis kembali ?

 

Tidak berapa jauh dari bekas kantor biro PKI, kita akan menemukan Sekolah sekaligus Panti Asuhan Vincentius Putra. Panti asuhan yang sudah ada sejak zaman Belanda, tepatnya tahun 1910 ini.didirikan oleh para pastor Katholik dalam rangka membantu anak-anak Indo – Belanda yang  terlantar kala itu. Bangunan panti yang  bergaya art deco ini tepatnya berada di Jalan Kramat Raya 134 hingga sampai sekarang dengan fungsinya sebagai panti asuhan.

Sejarah telah memperlihatkan semua hal kerakusan, kesombongan, keikhlasan bahkan pengorbanan yang mana itu menjadi pendorong daya juang  untuk generasi selanjutnya, Namun tampaknya manusia lebih bernafsu membuat sejarah ketimbang belajar dari sejarah.

Apa yang dilakukan anak muda, komunitas buku dan blogger Jakarta, dengan menyusuri Jalan Kramat Raya yang juga menjadi saksi bisu keberadaan bekas rumah Dokter Soeharto, dokter pribadi Presiden Soekarno di masa awal kemerdekaan, merupakan pembelajaran untuk belajar adil dalam menilai dan menuliskan sejarah, apalagi dalam menanggapi hal-hal yang sudah terjadi. Semestinya sejarah harus secara fair dijelaskan dan diceritakan. Jangan di”setir” seenaknya. Mentang-mentang di pihak yang menang. Memang si, sejarah itu dibuat oleh kaum yang menang.

apotek-24-jam-jakarta
Bekas rumah dr Soeharto, dokter pribadi Bung Karno

Di rumah yang saat ini menjadi Apotik Titi murni inilah, dulu Soekarno mengundang Tan Malaka untuk melakukan diskusi diskusi mengenai masalah masa depan Indonesia pada tanggal 9 September 1945. Berdasarkan penuturan Tempo edisi khusus Tan Malaka, di sinilah Tan Malaka mengatakan keyakinannya bahwa Belanda akan datang bersama Sekutu untuk kembali merebut daerah jajahannya sehingga Jakarta akan menjadi medan pertempuran dan itu akan membahayakan keselamatan presiden. Di sini pula kemudian Soekarno mempercayakan penerus pemimpin besar revolusi kepada Tan Malaka jika terjadi sesuatu kepada Soekarno.

Museum Sumpah Pemuda

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. —  Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer

 

Mari kita sedikit berandai andai, apa jadinya jika tidak ada yang menuliskan tentang sejarah ? Kita hanya bisa menduga duga pada apa yang terjadi, lebih extremnya percaya secara ngawur. Menulis sejarah itu sendiri subyektif berdasarkan apa yang dilakukan pada masa silam. Celakanya ada yang mempolitisi kenyataan sejarah itu sendiri. Ada fakta yang berusaha ditutupi agar kelak bisa merubah pandangan seseorang tentang sejarah masa lalu.

Di dalam Al-Qur’an juga menganjurkan kita untuk mempelajari sejarah secara menyeluruh. Tidak hanya mempelajari pertumbuhan dan kemajuannya, tapi juga mengahayati kisah-kisah pada zaman dahulu serta mampu mengambil hikmahnya.

Perjalanan menyusuri sejarah berlanjut menuju Museum Sumpah Pemuda. Posisi gedung ini adalah di Jalan Kramat Raya 106. Saat tiba, di pelataran gedung sedang berlangsung pemasangan tenda untuk acara peringatan Sumpah Pemuda. Kami pun mulai masuk dan menyusuri ruang-ruang museum yang menyimpan berbagai koleksi benda yang berkaitan dengan Sumpah Pemuda.

Sebuah meja dengan beberapa buku tua menjadi tampilan awal di ruangan pembuka. Di sini lah ruang tamu para pemuda Indonesia masa itu. Lebih ke dalam, terdapat ruangan yang cukup luas di mana Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 dilaksanakan. Ruangan ini dilengkapi dengan contoh patung-patung para pemuda yang sedang berposisi mengikuti kongres. Di sini pula ikrar Sumpah Pemuda dibacakan.

indonesia-raya
Teks lagu Indonesia Raya yang ada di dalam ruangan museum sumpah pemuda

Dalam perjalanan sejarah bangsa, yang kita tahu awal kebangkitan nasional dimulai tahun 1908 dengan lairnya organisasi pelajar Boedi Oetomo. Bandingkan dengan Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan 25 tahun lebih tua daripada Boedi Oetomo. Organisasi ini menjelma menjadi Syarikat Islam yang terbuka untuk seluruh rakyat Indonesia dari segala lapisan yang mayoritas beragama Islam. Faktanya, pendiri Syarikat Islam H.O.S. Cokroaminoto dan murid-muridnya adalah kaum pergerakan yang menjadi pejuang politik dan militer. Semoga ini bukan krisis sejarah berupa pengaburan Kebangkitan Nasional yang dimanipulasi seakan-akan berawal dari berdirinya paguyuban Boedi Oetomo.

Menyusuri tempat bersejarah  dan meresapi pesan pesan dari para tokoh tokohnya mengingatkan pada hal hal yang saat ini masih jauh dari semangat masa lalu. Hingga saya menuliskan ini di televisi banyak diberitakan pejabat pejabat yang tertangkap tangan karena pungutan liar, elit elit politik yang mengumbar amarah karena ketersinggungan, kita tahu sudah banyak pelajaran yang diberikan oleh sejarah, ketika politik dikendalikan oleh amarah, korban berjatuhan, konflik tak terhindarkan dan kebangsaanpun dipertaruhkan – Mata  Najwa #Bhinneka

Iklan

5 thoughts on “Jelajah Museum : Pemuda dan perannya dalam (menulis) sejarah”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s