Pelajaran dalam sebuah perjalanan


Ketika harus tugas keluar kota diakhir pekan sebetulnya hal yang sangat menyenangkan apalagi bisa jalan jalan gratis, hanya rasa malas tetap saja ada. Suasana hati yang kurang nyaman pun terbawa juga mbikin mangkel hati.

Hingga akhirnya, selama perjalanan menuju Kota Yogyakarya, kegiatan yang aku lakukan hanya membaca buku dan membuka notif group yang nyatanya juga terlihat sepi, bisa jadi karena jumat, kesibukan jelang akhir pekan menumpuk.

Jumat sibuk ternyata tidak juga karena faktanya perjalanan ini aku hanya bisa mendapatkan kelas ekonomi, kelas executif yang aku harapkan sudah habis terjual, mau naik pesawat harganya juga berkali lipat. Tak mengapalah setidaknya aku bisa menyelesaikan bacaan yang belum terselesaikan.

Duduk dihadapanku adalah ibu ibu muda dengan dandanan ala petualang, memakai celana jeans yang ada beberapa bagiannya dimakan kecoa hingga bolong dan kaos tshirt dengan sablonan acara televisi yang lagi ngetrent dan banyak menginspirasi orang untuk berpetualang.

Aku memang tidak tertarik menyapa atau sekedar berbasa basi berkenalan, ya  karena memang sedang badmood lagi pula merekapun juga terlihat cuek dengan keberadaannku.

Sepanjang perjalanan aku pun aku tidak begitu peduli dengan bahan obrolan mereka, yang rupanya mereka itu berjiwa backpaker suka jalan jalan dengan banyaknya celotehan perjalanan yang sudah mereka lalukan,  namun yang sedikit mengusik itu saat ada pernyataan yang cukup mendiskreditkan lelaki, salah seorang mengatakan, “Lain kali kita pergi yang jauh tanpa ada laki laki yang ikut,  bikin kita ga bebas, selalu di atur ini itu….” dan cukup panjang juga menyinggung tentang laki laki. Tapi biarlah itu urusan mereka tidak perlu aku perdebatkan, malas untuk menanggapi toh kenal juga tidak.

Sampai akhirnya saatnya kereta sampai di tujuan, dan bersiap untuk trun. Rupanya bawaan mereka tas lumayan besar, saat porter menawarkan jasa mereka menampiknya, mengingat tas ku terjepit diantara tas mereka aku hanya menunggu sampai mereka bisa mengambil tasnya, rupanya agak kesulitan. Dan aku tetap diam, hanya menonton sampai dia benar benar kepayahan, cukuplah aku membantu dengan senyuman saja, rupanya ibu muda ini kesal karena cuma ditonton dan dia bilang “kenapa jadi laki tidak mau membantu wanita kesusahan? Terkaget mendengar pernyataannya,  dan jawabku singkat “Bukannya kalian bebas dan merdeka tanpa bantuan lelaki”!

Ngomong ngomong soal wanita, mungkin bagi para wanita, mengira berlaku “Jual Mahal” adalah cara yang cocok  dilakukan dengan maksud menarik sebuah perhatian dan menguji terhadap para lelaki yang hendak mendekatinya.

But girls, if you like us too, please give us a chance, not a test.

Namun bagi lelaki, sikap jual mahalmu itu juga bisa dianggap sebagai tanda bahwa kamu menolak kehadirannya dalam kehidupanmu. Sebagai seorang lelaki yang tahu diri, ia tentu akan lebih memilih berhenti mengejar karena tidak ingin mengganggu hidupmu.

Untuk apa lelaki harus berjuang terus, namun yang diharapkan tetap dingin. Apakah salah jika ia memilih berhenti berjuang, karena merasa mengejarmu itu adalah sebuah kesia siaan

Iklan

7 thoughts on “Pelajaran dalam sebuah perjalanan”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s