Sepengggal misteri candi puncak agung macan putih


“De Dramatische Vernictiging Van Het Compagniesleger”, 18 Desember 1771 merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagi seluruh rakyat Blambangan, pada tanggal ini pejuang-pejuang Blambangan melakukan serangan umum secara “puputan” secara habis-habisan terhadap benteng pertahanan musuh. Para prajurit Blambangan melakukan serangan yang sangat mendadak dengan teriakan untuk membangun semangat juang mereka dan meruntuhkan semangat musuh, dengan menggunakan peralatan perang sederhana pada  apa yang dapat digunakan sebagai senjata, seperti golok, keris, pedang, tombak dan juga senjata-senjata api yang diperoleh sebagai rampasan dari tentara VOC.

Mentari pagi mulai menampakan wujud keperkasaanya, rasa lelah mendaki kawah Ijen terbayar dengan panorama menakjubkan yang dipersembahkan alam dengan keindahan bluefire dan panorama pemandangan gunung, nun jauh disana, mata ini melihat gunung yang kokoh berdiri dengan puncaknya berselimutkan kabut putih, penuh misteri. Gunung Raung, gunung yang terletak di Jawa Timur ini adalah gunung dengan medan sangat berat dan sulit namun menjadi idola bagi para jiwa petualang  yang selalu menyukai tantangan untuk memacu adrenalin. 

raung-dewa

Air terjun telunjuk Dewa raung

Sesuai dengan rencana setelah melihat kawah ijen, lokasi selanjutnya adalah mandi mandi di keindahan air terjun dewa raung, Air terjun yang terletak di kaki Gunung raung ini bukan merupakan satu satunya air terjun, konon disini sudah ditemukan 17 air terjun namun baru beberapa saja yang bisa diakses oleh masyarakat.

Dinginnya air terjun telunjuk dewa raung tidak begitu dirasakan setelah saya bertemu dengan seorang teman dari Tim SAR Banyuwangi yang dengan keramahannya menyambut dan berbagi cerita banyak hal dari pencariannya menemukan air terjun di gunung raung hingga menceritakan perang puputan seperti yang saya tulis diawal ini.

peta-blambangan

Peta Kerajaan Blambangan (sumber wikipedia)

Pertemuan dengan teman SAR ini merupakan bonus tersendiri bagi saya karena perjalanan kali ini tidak ada plan untuk menelusuri sejarah kota yang saya kunjungi, namun rupanya, ada yang Maha pengatur untuk segala hal yang kita lakukan. Setelah penelusuran Majapahit yang membawa saya ke Mojokerto hingga ke Ranah Minang, kali ini saya terbawa suasana pada cerita tentang Kerajaan Blambangan, yang juga tidak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Majapahit.

 

Segelas kopi panas yang disajikan warung di sekitar air terjun telunjuk dewa raung telah habis dengan sisa ampas hitamnya, namun kisah perjuangan rakyat Blambangan dalam melawan Belanda baru dimulai keseruannya dan semakin membuat saya penasaran untuk terus mendapatkan cerita cerita lainnnya. Akhirnya teman SAR ini mengajak saya untuk melihat langsung salah satu peninggalan dari sejarah masa lalu di bekas Kerajaan Blambangan ini.

rawa-bayu-4

Rawa bayu setelah festival

Rowo Bayu bukanlah sekedar tempat wisata biasa, namun memiliki cerita sejarah yang luar biasa, di Desa Bayu inilah terjadi perang puputan atau habis-habisan rakyat Blambangan melawan penjajah VOC Belanda, 18 Desember 1771. Puputan itu diakui Belanda sebagai peperangan paling brutal dan kejam, serta menghabiskan biaya senilai 8 ton emas. Dan sebagai bentuk penghargaan atas sejarah,  kini setiap 18 Desember diperingati sebagai hari jadi Kota Banyuwangi.

Rowo yang berarti rawa dalam bahasa Jawa dan bayu diambil dari nama daerah itu sendiri, terletak di Desa Bayu, Kec. Songgon, Kab. Banyuwangi. Suasana hening dan tenang sangat dirasakan saat mengunjungi Rawa Bayu ini. Terlihat masih ada beberapa hiasan dari janur kuning yang sudah terlihat layu, namun masih nampak jelas terlihat bahwa beberapa hari yang lalu disini baru saja selesai mengadakan hajatan festival sebagai perayaan perang puputan, sayagnya saya terlambat untuk bisa hadir dan menyaksikan langsung kegiatan yang cuma diadakan setahun sekali ini.

rawa-bayu3

Umbul umbul masih terpasang sebagai sisa festival rawa bayu atau perang puputan

Candi Puncak Agung Macan Putih

Memasuki area Rowo Bayu, saya melihat pada hamparan sebuah kolam air yang cukup luas namun tidak seluas kolam segaran yang ada di Trowulan Mojokerto. Jika di kolam segaran terlihat gersang karena sedikitnya pepohonan, di Rowo Bayu ini akan terasa menyejukan karena banyaknya pohon hijau yang mengelilingi area rawa.  Menyusuri pinggiran rawa, samar samar saya melihat sebuah bangunan candi berdiri dengan gagah di atas bukit yang menurut teman SAR ini disebut “Candi Puncak Agung Macan Putih” yang didirikan untuk menghormati roh para leluhur yang telah berjasa dalam mempertahankan tanah Blambangan dalam perang Puputan Bayu.

candi-agung

Candi Puncak Agung macan putih, NB : Akhirnya saya harus meminta foto ke teman karena tidak bisa mengambil gambar sendiri

Ada keraguan pada diri saya sebetulnya untuk mendatangi candi agung ini, sempat beberapa saat saya tertegun apakah saya harus naik untuk melihat secara langsung dari dekat atau cukup melihat dari kejauhan. Namun setelah diyakinkan teman SAR, akhirnya saya mendekat langsung ke area candi, terlihat ada beberapa warga yang sedang sembahyang, dan saya pun mengampil handphone untuk mengambil gambar, yang terlihat di layar handphone bukanlah bangunan candi namun hanya bayang bayang yang terlihat samar.

Ketika saya turunkan handphone dan melihat langsung candi dengan mata sendiri, terlihat sangat jelas dan kembali kamera handphone saya arahkan ke candi, masih terlihat samar. Tertegun saya melihat gambar samar tersebut, dan ketika teman SAR menegur untuk segera ambil gambar, saya cuma bisa mengatakan “candinya tidak bisa terlihat mas”, dengan penasaran teman SAR pun melihat hal yang saya lihat, candi puncak agung terlihat samar. Akhirnya kamipun menjauh dari area candi dengan segala pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran.

Petilasan Prabu Tawang Alun

Selanjutnya dengan menelusuri jalan setapak, tidak jauh dari dari candi puncak agung, kita akan menemui bangunan yang juga  bernilai sejarah yaitu situs Batu Suci Petilasan Prabu Tawang Alun. Setelah bertemu dengan juru kunci, beliapun dengan antusias menceritakan kisah kisah yang mengiringi keberadaan Rawa bayu ini berikut dengan sejarah petilasan suci yang ada. Dan saya pun sempat diajak untuk melihat secara langsung di dalam petilasan. Sang juru kunci menyatakan bahwa, siapa saja boleh masuk tanpa memandang agama apapun untuk menenangkan diri di dalam petilasan. masalah hajat yang ada di hati dikembalikan kepada manusia itu sendiri, karena keyakinan setiap kita akan berbeda beda.

Di sekitar bangunan petilasan  ini terdapat sumber mata air yang diyakini sebagai mata air suci oleh masyarakat sekitar, sumber mata air “Kamulyan”, sumber mata air “Dewi Gangga”, dan sumber mata air “Pancoran Suwelas” yang airnya mengalir dengan jernih menuju telaga utama.

Telaga yang jernih diantara bukit dan hutan yang rimbun penuh pohon besar memberikan aroma mistis di kawasan ini. Konon juga menurut mitos masyarakat sekitar, pada malam-malam tertentu telaga Bayu dijadikan tempat untuk mandi para bidadari.

Tertarik untuk mengunjungi wisata sejarah ini ?

 

Iklan

6 thoughts on “Sepengggal misteri candi puncak agung macan putih

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s