Wayang beber : Penguatan tradisi dalam era modern


Perjalanan touring lintas Jawa Timur akhirnya membawa saya ke sebuah kota yang dulunya merupakan sebuah kerajaan besar di wilayah timur pada abad 12 masehi, yang konon juga merupakan sebuah kerajaan medhangkamulan, menurut beberapa sumber  dimana lahirnya aksara jawa yang kita kenal hanacaraka adalah dikota kediri, sebagai bukti disini ada situs atau makam yang dipercaya sebagai makam ajisaka.

Mengunjungi kota kediri bukan hanya bisa menikmati panorama indah gunung kelud namun juga membawa agan angan saya kembali ke masa jaman kerajaan mataram kuno  pada petualangan cinta Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Siapa Dewi Sekartaji itu ? Dewi Sekartaji atau Putri Galuh Chandra Kirana adalah seorang putri raja kediri (Sebelumnya bernama Kerajaan Dhaha) yaitu Prabu Lembu Amiluhur. Kisah Dewi Sekartaji di masyarakat sangat melegenda terutama di masyarakat jawa dengan beragam lakon yang dikenal masyarakat, seperti cerita klenting kuning dan andhe andhe lumut.

kelud3
Panorama lereng Gunung Kelud

Dari kisah cinta Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangunlah atau lebih dikenal dengan Andhe andhe lumut inilah yang menjadi sumber dari cerita wayang beber. Wayang beber sendiri banyak sumber yang menyatakan berasal dari Pacitan Jawa Timur , meski dengan latar cerita Dewi Sekartaji dari Kediri.

wayang
Pagelaran wayang kulit dalam rangka peringatan 1 sura di situs Aji saka

Berbeda dengan wayang wayang pada umumnya seperti wayang kulit yang mengggunakan media kulit, atau wayag golek yang menggunakan kayu sebagai boneka yang dibuat wayang, wayang beber hanyalah berupa lukisan yang dibuat pada sebuah gulungan kertas, dengan berisikan cerita inti dari lakonyang dikisahkan oleh dalang dan dimainkan dengan cara membeberkan atau membentangkan gulungan kertas tersebut. Kata beber sendiri berasal dari bahas jawa “Njentrehke” atau membentangan. Membentangkan gambar menjadi sebuah alur cerita menurut lakon dalam pertunjukan wayang.

wayang-bbr
Jaka Kembang Kuning – Jagong 4 versi Pacitan – Karya Muhammad Hotib

Menurut sejarahnya wayang beber kuno dibuat dari gulungan kulit batang pohon melinjo, berbeda dari wayang lainnya yang biasanya berjumlah puluhan, wayang beber hanya terdiri daari 4 gulungan, dimana setiap gulungan terdiri dari 4 adegan dan lama pertunjukan wayang beber tidak semalam suntuk hanya berkisar 1 – 2 jam.  Dalam perkembangannya, cerita wayang beber bukan hanya petualangan cinta Dewi Sekartaji dan Panji Amorobangun, namun berkembang menjadi kisah Mahabarata, Ramayana dan kisah kisah lainnya. Termasuk di era merkantilisme budaya saat ini, wayang beber menjadi media untuk mengkritik kehidupan social.

Wayang Beber dalam era modernisasi

Wayang beber yang identik dengan budaya jawa sangat kental dengan tradisi lisan atau bertutur, penceritaan secara visual dalam wayang beber sangatlah khas sebagaimana seni pahat dalam relief candi yang saat ini masih bisa kita lihat di di candi Borobudur, Prambanan dan lainnya.

wbbr1
Pameran  Wiwara matra Wayang Beber Bentara Budaya jakarta

Wayang dalam pandangan sebagian orang adalah seni tradisi yang masih dianggap klasik dan susah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sementara generasi baru lahir dengan ekspresi budaya yang jauh berbeda dan bebas tanpa terikat pada tradisinya. Kondisi seperti ini menjadikan seni tradisi terengah -engah perkembangannya, hal ini banyak dipengaruhi perubahan sosial ekonomi. Pengaruh langsung dalam era modernisasi  sebenarnya lebih mengikis pada bentuk aktivitas, yang semula bersifat magis berubah menjadi kalkulasi ekonomis, budaya yang sakral menjadi praktek rasional, dikarenakan tekanan komersialisasi dan tuntutan memenuhi keuntungan.

Wayang Beber dan seni kontemporer

Mengembara dalam dunia seni pertunjukan yang berada dalam jaman yang serba modern saat ini, memaksa kita beradaptasi dengan jamannnya, menyatu dengan dinamika yang ada, hingga mampu menginspirasi lingkungan. Sadar ataupun tidak, ketika dulu cerita Wayang Beber mengisahkan Panji Asmorobangun yang mengembara mencari Dewi Sekartaji kekasihnya, kini Kisah Wayang Beber  tak sebatas bercerita tentang Panji, karena pada hakekatnya semua kita adalah Panji Panji yang mengembara mencari jatidiri pada kehidupan di dunia ini.

Bahwa perkembangan dalam segala hal tak bisa kita hindari, perubahan perubahan di segala lini memaksa juga dunia wayang mengikuti perkembangannya jika ingin tetap ada dan dikenal oleh generasi selanjutnya. Adalah sekelompok anak muda yang concern dalam melestarikan budaya, dan berpikir bagaimana agar anak muda sekarang ini juga bisa tertarik pada budaya bangsa masa silam namun dalam kemasan modern. Seperti Wayang beber metropolitan yang mencoba mengangkat kembali wayang beber dalam kanvas kanvas modern mengikuti apa yang terjadi di social masyarakat. Cerita cerita yang diangkat bukan lagi Panji yang mencari cintanya yang pergi, namun bisa berupa kehidupan metropolitan dengan segala problematikanya.

Wayang beber adalah seni pertunjukan tutur yang perfomatif, syarat makna dan nilai hal ini penting untuk melihat nilai nilai kearifan local, wayang beber bukan hanya sekedar produk dari pengetahuan  tradisi namun dapat disebarluaskan agar mampu melahirkan pemikiran pemikiran estetik sebagai produksi pengetahuan.

Pada akhirnya menjadi sebuah tantangan bagi kita, agar perkembangan seni tradisi bukan semata menjadikan elemen tradisi sebagai tempelan atau trend semata, namun juga mampu melakukan inovasidengan tanpa menghillangkan nilai nilai yang tersemat di dalamnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s