Jejak tapak Bima di jalur pendakian Merbabu via Gancik


Gunung Merbabu cukup dikenal sebagai gunung favorite para pendaki, bukan hanya karena medan pendakian nya yang tidak terlalu berat, pemandangan disini juga memanjakan mata dengan luasnya padang sabana dan hutan edelweiss. Gunung Merbabu sendiri merupakan gunung api bertipe strato yang terkenal dengan keangkerannya, banyak cerita cerita mistis tentang gunung ini di masyarakat, namun semua itu tidaklah menjadikan para pendaki menjadi takut.

Tanjakan dari Watu Lumpang ke puncak Syarif

Tanjakan dari Watu Lumpang ke puncak Syarif

Dalam naskah naskah pra -Islam, Gunung Merbabu ini lebih dikenal sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pamrihan, dulu di lerengnya terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi Bujangga Manik. Seperti pada umumnya gunung gunung yang ada di Pulau Jawa yang sarat dengan cerita pewayangan, terkait dengan kepercayaan masyarakat sekitar yang beragama Budha dan Hindu. Di Kawasan Merbabu ini juga banyak kisah kisah yang berhubungan dengan tokoh tokoh wayang lengkap dengan bukti bukti yang dipercaya oleh masyarakat.

Tapak Bima di jurang Kali Bimo ini

Medan jalur pendakian Gunung Merbabu memang tidak terlalu berbahaya, potensi yang perlu diperhatikan adalah cuaca dingin juga karena kawasan ini adalah hutan homogen, dimana hutan sangat lebat ini, namun sedikit tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai survival atau bertahan hidup.

Untuk jalur pendakian merbabu sendiri ada beberapa jalur favorite, dengan tiap tiap jalur berbeda tantangannya. Pada pendakian kali ini saya penasaran dengan jalur baru yang konon, katanya lebih dekat dan cepat sampai untuk ke puncak. Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat mendaki adalah memilih jalur pendakian ini sangat penting, kecuali memang kita ingin mencoba jalur baru yang tidak biasa.

Jalur pendakian via Gancik ini tergolong jalur pendakian baru dan menurut tim SAR yang saya jumpai, belum menjadi jalur pendakian resmi sehingga bisa menjadi masalah bagi pendaki, jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Jalur Gancik ini sangat  indah karena kita akan melewati ladang masyarakat namun tantangan pertama dengan jalur menanjak sudah kita dapati  begitu keluar dari area basecamp.

Sebetulnya rencana pendakian via Gancik ini kita mulai dari jam 00.00 ini tentunya bermaksud agar sampai puncak bisa dapat sunrise.  Namun begitu kita mulai melewati track tanjakan pertama terjadi sesuatu diluar dugaan, yang membuat kami memutuskan harus menunda pendakian ini, dan akhirnya pagi hari baru kita mulai pendakian. Segala yang terjadi tentunya akan ada hikmah yang kita dapatkan, dengan merubah waktu pendakian menjadi pagi, kita bisa menikmati panorama hijau ladang. Saya sendiri sempat berdialog sebentar dengan petani  bawang yang sedang menanam bawang di lereng gunung.

Jalur pendakian merbabu.jpg

Bukit Gancik, nama Gancik diambil dari sejarah Kyai Syarif yang tinggal di Merbabu pada tahun sebelum kemerdekaan. Jalur di bukit ini konon sering menjadi tempat gawe mancik [untuk pijakan] kyai dan juga menjadi jalur favorite evakuasi. “Gawe mancik saat kyai memandang alam sekitar dan gawe becik” harapanya dengan nama itu masyarakat sekitar berharap menjadi desa yang berkembang.

Bukan hanya sejarah dari Kyai Syarif yang namanya menjadi salah satu puncak Gunung Merbabu, di Bukit Gancik ini juga merupakan jalur yang menjadi destinasi wisata panorama, yang dikenal dengan Gancik Hill Top. Gancik Hill Top ini adalah gardu pandang yang berada di lereng  Gunung Merbabu dengan ketinggian 2000 mdpl, sehingga saat kita berada disini sudah merasakan seperti diatas awan.

Di Bukit Gancik tepatnya di jurang Kali Bimo warga sekitar menemukan (konon) benda purbakala sebuah batu besar dengan jejak tapak kaki besar yang diyakini oleh warga adalah kaki dari tokoh wayang Bima atau Werkudoro. Warga meyakini dan menyebutnya dengan batu tapak Bima karena ditemukan di jurang atau Kali Bimo.

Saat ini, batu tapak Bima itu diletakkan di Bukit Gancik tepat dibawah tulisan Gancik Hilltop. Mengenai kepastian cerita sejarah batu tapak bima ini, belum bisa di konfirmasikan namun di lokasi yang tidak jauh dari ditemukannya batu tapak bima ini, sebelumnya juga pernah ditemukan batu dengan tapak serupa.

Keberadaan batu bertapak kaki di gunung, sebetulnya bukan hanya sekali ditemukan, sebelumnya di wilayah Suroteleng juga ditemukan batu bertapak kaki, dan gunung lainnya adalah di Gunung Lawu juga pernah ditemukan batu dengan jejak tapak kaki. Apapun cerita yang mengiringi dari ditemukannya batu  bertapak tersebut, itu menunjukan bahwa kita harus selalu mempunyai pijakan dalam hidup. Setinggi apapun gunung yang kita daki, kita semua akan kembali turun ke bawah, sejauh apapaun kaki ini melangkah kita akan kembali pulang.

Watu lumpang Merbabu

Watu lumpang Merbabu

Bukit Gancik ini selalu ramai dikunjungi wisatawan yang hanya ingin menikmati panorama pegunungan  atau hanya sekedar berfoto foto dengan background gunung merbabu dan gunung merapi. Jika ingin melanjutkan ke puncak merbabu, kita bisa melanjutkan dengan jalur setapak atau jika ingin lebih cepat sampai, kita bisa menumpang ojek sampai dengan pos 1 dan untuk selanjutnya tetap melanjutkan perjalanan dengan kekuatan kaki, karena di jalur ini track yang dihadapi adalah tanjakan.

Bagaimana rasanya tanjakan via gancik ini, tunggu ulasan berikutnya ya …….

Yeaaaa berhasil

Yeaaaa berhasil.JPG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s