Panorama Tebing Breksi

Tebing Breksi : Tak selamanya luka itu menyakitkan


Yogyakarta semua sepakat adalah kota penuh warna, setiap langkah yang dibuat adalah kenangan penuh romantisme. Senyum ramah masyarakat, atraksi seniman jalanan yang tidak meninggalkan adat ketimuran mereka, sajian kuliner khas tanpa meninggalkan jatidiri mereka. Setiap sudutnya penuh dengan rindu, yang selalu membuat kita ingin selalu kembali dan pulang ke Yogyakarta. Pantas jika label “Istimewa” disematkan untuk kota yang tak pernah tidur dari keramaian.

Hal lain yang membuat kita selalu rindu akan kota Yogya adalah pada pariwisatanya, Prambanan dengan legendanya, Ratu Boko dengan eksotismenya, atau Pantai Selatan dengan deburan ombaknya. Dan tak kalah menarik adalah wisata yang sebetulnya merupakan luka alam yang dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya sebuah lokasi bekas pertambangan, namun tidak selamanya luka itu akan menyakitkan, bahkan sebaliknya luka bisa menjadi seribu keindahan, seperti Tebing Breksi ini.

Panorama Tebing Breksi

Panorama Tebing Breksi

Belum banyak  yang mengetahui tentang Tebing Breksi ini, termasuk saya juga baru mengetahui adanya wisata ini dari sebuah acara di JCC Senayan, ketika berkeliling melihat lihat pameran, ada stand dari Pemda Gunung Kidul yang menawarkan wisata Tebing Breksi. Rasa penasaran pun menghinggapi saya hingga akhirnya, berkesempatan harus bertugas ke Yogyakarta tanpa menyiakan kesempatan saya mencoba untuk mengunjungi Tebing Breksi ini.

Setibanya saya di lokasi Tebing Breksi, ternyata belum ada tarif resmi untuk masuk kawasan ini,  saya hanya diminta membayar uang parkir sebesar Rp. 2000,- untuk motor, serta sumbangan seikhlasnya untuk biaya perawatan tebing dan untuk parkir mobil dikenakan Rp 5000,-

Asal mula adanya Tebing Breksi

Tebing Breksi, ini awalnya merupakan areal penambangan batu kapur yag dikelola oleh masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian sejak 1980an. Bekas galian yang tertinggal ini berupa tebing-tebing dengan sisa pahatan yang khas menyisakan pemandangan unik tersendiri, perpaduan warna coklat, hitam, dan putih tampak artistik dan eksotis.

Jalur menuju Tebing Breksi

Jalur menuju Tebing Breksi

Lokasi Tebing Breksi tepatnya Desa Sambisari, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman dari Kota Yogya cukup membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam. Untuk menuju area ini searah dengan saat kita menuju  komplek Istana Boko, jadi lokasinya tidak jauh dari wilayah Gunung Kidul. Kondisi jalan untuk menuju Tebing Breksi sudah lumayan bagus, meskipun jalannya harus menanjak. Rupanya pemerintah cukup memahami pentingnya infrastruktur untuk menunjang pariwisata. Apalagi Tebing Breksi ini searah jika kita hendak menuju objek wisata Candi Ijo, yang letaknya kurang lebih 1 km dari Tebing Breksi. Candi ijo sendiri merupakan candi tertinggi di Jogja, karena letaknya ada diatas bukit yang juga cukup menawan untuk dinikmati.

Panorama area candi ijo

Panorama area candi ijo

Lokasi yang searah dengan Gunung Kidul inilah yang akhirnya timbul sebuah penelitian tentang struktur bebatuan tersebut, dan ternyata bebatuan di tebing tersebut merupakan endapan sisa abu vulkanik dari gunung api purba Nglanggeran yang ada di Gunung Kidul.

Baca : Menyusuri jejak Purba di Nglangeran Gunung Kidul

Ini merupakan sebuah nilai historis vulkanologis yang tentunya harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya karena merupakan bagian dari geo heritage. Alasan inilah, yang akhirnya penambangan bebatuan di tebing ini yang terkenal dengan sebutan Tebing Breksi tersebut dihentikan.

Tentunya penghentian penambangan ini menimbulkan implikasi ekonomis bagi masyarakat yang selama ini mejadikan penambangan batu kapur sebagai sumber mata pencaharian. Namun bukan orang Jogya, jika tidak kreatif dan terkenal dengan jiwa seninya. Benar juga ada pameo yang mengatakan “Perut lapar akan membuat orang berpikir“. Seperti juga masyarakat sekitar pertambangan batu kapur itu kemudian mendapatkan ide, untuk mengubah tebing bekas penambangan itu menjadi objek geowisata yang menarik, dan unik. Berkat dorongan pemerintah daerah setempat kemudian lokasi bekas pertambangan itu diberi nama Taman Tebing Breksi yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Tebing Breksi.

Geowisata berlatar Budaya

Tidak semua goresan luka adalah bencana, seperti pula Tebing Breksi ini, pertama saya melihat kesan pertama yang didapatkan adalah, eksotis, indah dan romantis, hamparan tebing tinggi menjulang, kelihatan gagah sekali ditambah dengan ukiran seniman yang ditorehkan di sekitar tebing, semakin mempercantik pesona Tebing Breksi. Panggung terbuka “Tlatar Seneng” berbentuk lingkaran dengan dikelilingi kursi-kursi duduk panjang dari batu yang ditata berderet melingkar membuat angan menerawang jauh seandainya ada pagelaran “Rahwana dan Shinta” seperti di Candi Prambanan, atau Tari Kecak di Bali pada saat menjelang matahari terbenam atau saat malam hari dengan gemerlap cahaya obor, pasti suasananya terasa sangat istimewa.

Panggung terbuka Tlatah Seneng cocok untuk pagelaran

Panggung terbuka Tlatah Seneng cocok untuk pagelaran

Tebing breksi saat ini masih dilakukan pembenahan, masih terlihat beberapa pekerja sibuk menyelesaikan beberapa bagian dari proyeknya. Ukiran dan pahatan tokoh wayang tampak terlihat di beberapa bagian sisi tebing.  Di sisi tebing sebelah kanan, terdapat tangga yang dipahat sebagai jalan utama menuju ke puncak tebing. Saat kita menapakai tangga tangga menuju puncak tebing, akan terlihat relief indah yang dipahat di dinding yang menggambarkan pertempuran antara Buto Cakil dengan tokoh Arjuna, yang dimenangkan oleh Arjuna, sebuah relief yang menggambarkan bahwa setiap kejahatan pasti akan kalah melawan kebenaran.

Panorama alam yang indah dari atas Tebing Breksi

Panorama alam yang indah dari atas Tebing Breksi

Sesampai kita di puncak tebing, kita akan melihat sebuah panorama alam yang sangat indah, pepohonan yang hijau dengan bukit bukitnya, samar juga kita bisa melihat Candi Prambanan, Candi Barong dan juga Istana Ratu Boko. Posisi yang tinggi ini sangat cocok bagi pemburu sunset dan sunrise.

Meskipun tergolong baru sebagai lokasi wisata, namun pengelola sangat serius membenahi fasilitas untuk pengunjung, disini sudah terdapat Mushola untuk ibadah bagi umat islam, toilet juga pusat jajanan bagi pengunjung yang merasakan lapar ataupun kehausan. Saya sendiri melihat prospek wisata Tebing breksi ini akan makin banyak menarik pengunjung, seandainya pengelola benar benar serius memadukan geowisata dengan budaya lokal. Dan yang lebih penting adalah kesadaran dari pengunjung dan pengelola untuk selalu menjaga keasrian dan keindahan Tebing Breksi terutama dalam segi kebersihan.

Lahan parkir di Tebing Breksi

Lahan parkir di Tebing Breksi

 

Iklan

3 thoughts on “Tebing Breksi : Tak selamanya luka itu menyakitkan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s