Proklamasi

Napak Tilas Proklamasi : Dimana Jalan Pegangsaan Timur 56 ?


“Pada tanggal 17 Agustus  1945, telah dibacakan teks Proklamasi yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur No 56, coba tunjukan dimanakah Jalan Proklamasi No 56 itu ?” Sebuah pertanyaan sederhana, diberikan oleh cucu dari Bapak Proklamator, Ibu Mutia Hatta dalam suatu kesempatan napak tilas proklamasi yang dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2017, dengan mengambil start dari Musium Perjoeangan 45 dan finish di Taman Tugu Proklamasi Jalan proklamasi.

Napak Tilas
Napak Tilas Kemerdekaan

Saat kita merayakan Dirgahayu Republik Indonesia maka saat itu juga perayaan peristiwa dibacakannya teks Proklamasi oleh dua orang Bapak Proklamator Soekarno – Hatta, dan hal itu juga tidak terpisahkan dengan lokasi dibacakannya teks proklamasi tersebut, yaitu Jalan Pegangsaan Timur No 56, dihalaman rumah Bapak Proklamator itulah deklarasi kemerdekaan sebagai awal dimulainya babak sejarah Indonesia di dengungkan ke seluruh antero dunia.

Pegangsaan 56 adalah kediaman pribadi Bung Karno, dari halaman rumah yang asri tersebut proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta pada Jumat Legi tanggal 17 Agustus 1945, bertepatan dengan bulan ramadhan dan saat itu Bung Karno sedang menderita sakit malaria. Di rumah itu pula bendera Merah Putih (kini bendera pusaka) yang dijahit oleh Ibu Fatmawati dikibarkan menandai sang saka merah putih berkibar dengan merdeka di bumi Indonesia.

Proklamasi
Jalan Pegangsaan 56 riwatamu kini

Pastinya kita semua pernah mendengar dan bisa jadi hafal dengan sebuah penggalan pidato Bung Karno yang terkenal dengan Jasmerah

“Abraham Lincoln, berkata: “one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah”, tetapi saya tambah, “Never leave history”. inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah historymu. Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita dimasa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri diatas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap”. (Pidato Jasmerah)

Namun, ketika Ibu Mutia Hatta melontarkan pertanyaan tersebut, saya sedikit terhenyak dan bertanya dalam hati “Oh iya, dimanakah Jalan Pegangsaan Timur 56 itu ? karena selama ini yang sering saya lewati hanyalah Jalan Proklamasi  hingga menembus ke persimpangan ke arah sekitar Stasiun Cikini yang merupakan Jalan Pegangsaan Barat. Jika saja pertanyaan itu ditujukan ke saya, saya pastinya tidak akan bisa menjawab, karena semenjak saya ada dan mulai mencari penghidupan di Ibukota Jakarta ini, tidak pernah saya melihat papan nama dengan tulisan Jalan Pegangsaan Timur 56.

Ada apa dengan Pegangsaan Timur No 56 ?

Proklamasi
Sebuah Monumen Proklamasi untuk mengenang peristiwa pembacaan Proklamasi

Bila kita menelusuri Jalan sekitar Menteng, jangan berharap akan menemui papan nama dengan tulisan Jalan Pegangsaan Timur, atau berharap masih bisa melihat bangunan nomor 56 asli peninggalan sejarah, karena rumah itu telah hilang tanpa bekas. Sebagai gantinya, berdiri Monumen Proklamasi dengan Monumen Petir setinggi 17 meter di tempat Bung Karno membacakan teks Proklamasi 72 tahun lalu.

“Pada 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur yang sekarang berdiri di sana Gedung Pola. Maka di muka Gedung Pola itu ada tugu, tugu itu ditaruh persis di tempat yang dulu saya injak membacakan Proklamasi itu. Jadi kalau Saudara-Saudara ingin mengetahui tempat yang saya membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945, tugu Pegangsaan Timur 56 itulah tempatnya. Di atas tugu itu diadakan gambarnya petir, gambar bledek, oleh karena di tempat itu dulu dibacakan naskah proklamasi. Dan naskah proklamasi itu memang boleh dikatakan petir, geledek, yang didengarkan oleh 5 benua dan 7 samudera!” (Soekarno).

Terdapat pula patung dua tokoh Proklamasi Bung Karno dan Bung Hatta yang dibangun pada tahun 1980 an. Sementara lapangan seluas 4 hektar yang mengelilingnya kini berfungsi sebagai taman publik untuk beristirahat atau berolahraga.  Sangat disesalkan, bangunan yang sangat bersejarah  bekas rumah Bung Karno sudah dirobohkan, padahal rumah tersebut merupakan salah satu peninggalandan saksi bisu sejarah yang langsung terkait dengan perjuangan revolusi bangsa ini.

Sulit dipahami kenapa Bung Karno tega menghancurkan rumah bekas tempat tinggalnya sendiri, yang seharusnya juga menjadi bangunan paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Presiden pertama RI itu dikenal sebagai tokoh yang menghargai sejarah. Sampai wafatnya, Juni 1970, Bung Karno tidak pernah menjelaskan apa alasan yang mendorongnya untuk membongkar gedung di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Namun, sejarahwan senior, Bambang Hidayat, mengatakan, penghancuran Gedung Proklamasi dilakukan Bung Karno mungkin akibat bujukan kaum ”kiri” yang ingin menggantinya dengan bangunan lain yang lebih sosialistis. Sayang, kebenaran cerita ini pun belum dapat dipastikan. Dengan begitu, alasan sesungguhnya dari pembongkaran Gedung Proklamasi masih tetap menjadi misteri sampai saat ini.

 

Iklan

2 thoughts on “Napak Tilas Proklamasi : Dimana Jalan Pegangsaan Timur 56 ?”

  1. hanya Tuhan dan Pres.Soekarno aja yg tahu alasannya…
    kenapa rumah di Jl.Pegangsaan no. 56 dihancurkan.

    Pres. Soekarno wafat di Wisma Yaso. sekarang menjadi museum Satria Mandala

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s