Sasmitaloka jendral Ahmad Yani

(Napak Tilas) Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Saksi Sejarah Tragedi Tujuh Peluru Berdarah


Setiap memasuki bulan September maka biasanya orang bahkan LSM ramai memperbincangkan dari warung kopi, Cafe hingga di meja-meja seminar tentang sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah peristiwa yang hingga saat ini masih saja selalu menjadi perdebatan, polemik berkepanjangan tentang kebenaran sejarah dan entah perdebatan panjang apalagi untuk peristiwa sadis pembunuhan para jendral kita. Yang perlu kita ingat adalah, peristiwa 30 September 1965 adalah peristiwa dimana telah terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh perwira tinggi militer Indonesia bersama beberapa orang lainnya yang dibunuh dalam rangka usaha kudeta yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sasmitaloka
Tujuh butir peluru berdarah

Baca juga : Napak Tilas Proklamasi : Dimana Jalan Pegangsaan Timur 56 ?

Peristiwa 30 Sepetember sendiri tidak bisa lepas dari isu yang terjadi saat itu tentang adanya Resolusi Dewan Jendral, dimana dinyatakan bahwa beberapa Jendral telah menyusun sebuah rencana penggulingan terhadap Presiden Soekarno untuk mengambil alih kekuasaan. Dan karena isu itulah, para anggota PKI saat itu menjadi resah jika saja apa yang diisukan terjadi dan para Jendral berhasil mengambil alih kekuasaaan maka posisi keberadaan PKI akan diujung tanduk, maka direncanakanlah sebuah usaha untuk menggagalkan dengan menumpas para jendral yang terlibat didalam Dewan Jendral, sebelum mereka mendahului merebut kekuasaan.

Sasmitaloka
Ruang Tamu

Terlepas dari kontroversi dan polemik yang terjadi saat ini, kita semua tahu bahwa pada tanggal 30 September 1965 pukul 4 pagi, diculik tujuh jendral yang telah menjadi target operasi PKI. Mereka dibawa kesebuah area hutan di kawasan lubang buaya dan diserahkan ke massa pendukung mereka yang telah berkumpul dan menunggu untuk mengadili dengan cara mereka secara kejam dan biadab. Massa dibebaskan untuk melakukan apapun sesuka hati mereka terhadap para jendral yang telah diculik sebelum akhirnya disiksa dan dibunuh serta dibuang ke sebuah sumur tua.

Baca : Makna tema Hari Kebangkitan Nasional 2017

Perisitiwa Tujuh Peluru Berdarah

Menelusuri kawasan Menteng Jakarta Pusat kita akan menemukan beberapa rumah pejabat yang masih aktif hingga rumah yang menjadi saksi bisu perjuangan Bangsa Indonesia baik yang terawat maupun yang teronggok bisu tanpa perawatan. Di kawasan menteng ini pula kita bisa menjumpai dua rumah yang menjadi saksi bisu peristiwa pahit yang mencoreng perjuangan bangsa Indonesia dengan terjadinya aksi percobaan kudeta yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan meculik dan membunuh secara keji tujuh jendral perwira tinggi.

Ruang Tunggu
Ruang Tunggu Sasmitaloka

Terletak di Jalan Lembang No 68 Menteng Jakarta Pusat, sebuah rumah menjadi saksi bisu kisah tragis terbunuhnya Menteri/Panglima Angkatan Darat saat itu. Di rumah kediaman pribadinya Jendral Ahmad Yani gugur ditembak secara mengenaskan di ujung pagi di rumah yang kini telah menjadi Museum Sasmitaloka Ahmad Yani.

Kenapa dinamakan Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, berbeda dengan museum lainnya, seperti museum Jendral AH Nasution yang juga salah satu target pembunuhan PKI. Dilihat dari asala katanya, Sasmita dalam bahasa sansekerta artinya mengenang, dan loka artinya tempat, sehingga Sasmitaloka berarti sebuah tempat yang mengenang peristiwa besar yang telah terjadi ditempat itu, hal inilah yang membedakan Museum Sasmitaloka Ahmad Yani berbeda nama dengan museum lainnya.

Sasmitaloka
Senjata Thompson yang merenggut nyawa Jendral Ahmad Yani

Memasuki Museum Sasmitaloka Ahmad Yani ini kita akan melihat beberapa ruangan, dari ruang tamu, ruang santai, ruang makan dan kamar tidur pribadi Jendral Ahmad Yani, serta kamar tidur putra putri beliau. Namun dari beberapa ruangan yang ada, ruangan didekat kamar pribadi beliaulah yang cukup menyita perhatian saya, dimana alam pikiran saya terbawa ke masa dimana sang Jendral yang gagah dengan masih memakai pakaian tidurnya menemui pasukan yang hendak membawanya dengan alasan dipanggil Presiden Soekarno.

Diruangan inilah, menurut guide yang memandu kami Jendral Ahmad Yani dieksekusi oleh anggota pasukan Cakrabirawa, “Saat itu pukul 04.00, ketika pasukan Cakrabirawa masuk dari pintu belakang rumah.Pintu belakang rumah memang sudah terbiasa tidak dikunci karena menjadi pintu masuk ajudan dan para pembantu. Disaat suasana sepi masuk 3 orang anggota pasukan Cakrabirawa, dan pasukan lainnya mengepung sekeliling rumah dengan dibantu Pemuda Rakyat dan Gerwani”.

Lokasi gugurnya Jendral Ahmad Yani
Lokasi gugurnya Jendral Ahmad Yani

Tiga orang pasukan Cakrabirawa yang terdiri dari, Sersan Raswad< Kopral Tumiran dan Kopral Giyadi, setelah berhasil masuk kedalam ruah, memaksa pembantu untuk membangunkan majikannya. Namun para pembantu tidak ada yang berani sehinggga terjadi keributan yang akhirnya membangunkan Irawan Suaedi keci, yang lalu disuruh untuk membangunkan ayahnya.

Firasat jelek sebetulnya sudah dirasakan Jendral Ahmad yani, ketika Kopral Tumiran meminta Jendral Ahmad Yani menghadap Presiden Soekarno dengan nada kasar kepada seorang Jendral. dan saat sang Jendral meminta untuk berganti bajupun, Kopral Tumiran melarangny. “Pak Yani saat itu menjadi marah dan menempeleng Tumiran, dan ketika hendak menuju kamar pribadiny, Pak Yani diberondong dengan memakai senta Thompson milik pasukan Cakrabirawa. Ada 7 peluru yang ditembakan ke beliau dan langsung mengenai tubuh sang jendral berbintang 4 dengan 3 peluru bersarang didalam tubuh dan 4 peluru menembus badan dan terpantul disekitarnya, Jendral Ahmad yani pun gugur dengan bersimbahkan darah. Tidak selesai sampai disitu saja, bahkan setelah gugur, sang Jendral masih diseret melalui lorong rumah hingga samping rumah dan dilemparkan ke dalam truk yang sudah menunggu dan kemudian dibawa ke lubang buaya.

Tanda Pangkat Jendral Ahmad yani.png
Tanda Pangkat Jendral Ahmad Yani

Noda hitam telah mencoreng sejarah bangsa, oleh orang orang yang berambisi pada kekuasaan dan tidak mempunyai rasa perikemanusiaan. Apapun perdebatan yang terjadi saat ini, peristiwa 30 September cukuplah menjadi pelajaran bagi Bangsa Indonesia, agar kita semua bersatu tidak terpecah belah dan mau di adu domba. dan jangan sekali kali melupakan sejarah, seperti pesan Bapak Proklamator kita, Ir Soekarno. Dan salah satunya agar tidak lupa pada sejarah adalah dengan mengunjungi Museum Sasmitaloka Jendral Ahmad Yani yang buka setiap hari Selasa – Minggu, Pukul 08.00 – 14.00 WIB.

Lukisan yang tertembus peluru

Sasmitaloka
Halilintar yang menyambar kamar Jendral Ahmad yani
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s