Jendral AH Nasution

(Napak Tilas) Museum AH Nasution, Sang Ahli Strategi Perang Gerilya


Menyusuri kawasan Menteng Jakarta yang merupakan kawasan elit dari dahulu merupakan sebuah kawasan yang dihuni kalangan pejuang, keluarga pahlawan, pejabat tinggi hingga pengusaha sukses. Hingga saat ini Menteng tetap menjadi wilayah penting kota Jakarta, bahkan juga dalam kancah perpolitikan nasional, lantaran banyak peristiwa politik ditentukan dan terjadi di kawasan ini. yang salah satunya selalu menjadi topik yang selalu hangat diperbincangkan diperdebatkan semua orang, baik tukang becak hingga para pejabat negara. Disinilah berdiri sebuah museum kenangan peristiwa yang mencoreng perjalanan sejarah bangsa dengan terjadinya penculikan dan pembunuhan dalam suatu gerakan 30 september.   

Baca : (Napak Tilas) Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Saksi Sejarah Tragedi Tujuh Peluru Berdarah

Gerakan 30 September 1965 (G30S-PKI) bisa dikatakan sebagai salah satu peristiwa bersejarah yang kontroversi dan cukup mengguncang dalam sejarah Indonesia era modern saat ini. Akibat peristiwa pemberonkan ini, tercatat sebagai peristiwa yang mengakibatkan (dampak dan implikasi yang menyertainya), merupakan pemberontakan yang paling banyak memakan korban jiwa.

Museum AH Nasution
Museum Jendral AH Nasution

Pro dan kontra mengenai peristiwa ini dikalangan ahli sejarah cukup tajam menjadi perdebatan, baik mengenai kejadian sebenarnya hingga siapa dalang dibalik peristiwa tersebut, termasuk juga kontroversi pada sebuah film mengenai peristiwa ini yang dibuat pada era orde baru. Namun, disaat ahli sejarah harus berdebat tentang itu semua, kita selayaknya sebagai rakyat perlu memahami dan mengetahui hal pasti bahwa, memang telah terjadi sebuah peristiwa yang dinamakan Gerakan 30 September yang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira tinggi angkatan bersenjata yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ade Irma Suryani Korban Peluru Nyasar Pasukan Tjakrabirawa

Matahari siang terasa sangat menyengat, namun kawasan Menteng dengan pepohonannya yang rindang mampu menepis sengatan galak sinar matahari. Setelah mengunjungi Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, bergegas saya melangkahkan kaki ke sebuah Museum yang juga masih merupakan saksi sejarah dari noda hitam perjalanan bangsa Indonesia. Museum AH Nasutin terletak di Jalan Teuku Umar Menteng Jakarta Pusat, sebelumnya merupakan rumah kediaman pribadi Jendral AH nasution.

Dengan menggendong ade, Ibu Naution menemui pasukan cakrabirawa
Diaorama dengan menggendong ade, Ibu Naution menemui pasukan cakrabirawa

Disinilah pada tanggal 30 Sepetember 1965, telah terjadi sebuah kejadian biadab dengan terenggutnya nyawa gadis kecil, korban peluru nyasar pasukan Cakrabirawa, putri dari Jendral AH Nasution, yang juga merupakan salah satu target penculikan dan pembunuhan dari gerakan 30 September.

Peristiwa itu masih membekas dalam ingatan keluarga Jendral AH Nasution, dan tergambar dalam sebuah diorama yang menggambarkan peristiwa itu, ketika menjelang shubuh tiba, sepasukan Tjakrabirawa tiba tiba menyerbu  rumahnya dan menembak dengan membabi buta yang akhirnya peluru itu menembus punggung gadis cantik tanpa dosa. Memasuki museum AH Nasution, kita akan menjumpai sembilan ruang utama yang dahulunya merupakan kediaman Pak Nas dan keluarga. Namun hal yang paling membuat merinding adalah saat memasuki ruang tidur, di kamar itulah insiden memilukan terjadi. Di langit-langit kamar tampak dengan jelas bekas peluru dan juga dipintu masuk akibat berondongan peluru.

AH Nasution melompat
Diorama yang menggambarkan saat Jendral AH Nasution melompat dinding

Beranjak beberapa meter, terdapat ruang Ade Irma Suryani yang dulunya menjadi kamar tidur dari putri bungsu Pak Nas. Berbagai koleksi peninggalan sosok yang meninggal pada usia lima tahun itu masih tersimpan utuh dalam lemari kaca. Boneka, sepatu, seragam TNI ukuran kecil, hingga botol minuman plastik. Di atas lemari tersebut, terpampang bingkai foto Pak Nas dengan Ade Irma Suryani disertai keterangan singkat namun memilukan: PAPAAA… APA SALAH ADEK? Sementara, di ruang makan terdapat diorama yang tidak kalah tragis. Usai Pak Nas berhasil melarikan diri, istrinya berusaha menghubungi Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah yang menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya untuk meminta bantuan. Hanya, usaha itu gagal karena sambungan telepon sudah diputus.

Jendral Pemikir dan Ahli Strategi Perang Gerilya

Saat kita berkeliling museum AH Nasuton, maka disini kita akan menjumpai sebuah ruangan kerja yang penuh dengan buku-buku, di dalam ruangan inilah sang Jendral setiap hari menghabiskan waktunya untuk menuangkan segala ide-idenya untuk kemajuan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Jendral AH Nasution
Diruangan inilah beliau menghasilkan karya besarnya

Abdul Haris Nasution atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Nas, lahir di Huta Pungkut, Kecamatan Kotanopan, Tapannuli Selatan, pada tanggal 3 Desember 1918. merupakan Jenderal lulusan KNIL atau Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Bandung pada tahun 1940-1942 . Dari pengalamannya memimpin peperangan dalam negeri Pada masa Agresi Militer I Belanda, maka beliau dikenal sebagai ahli strategi perang gerilya dunia.

Taktik perang gerilya ini disusun Pak Nas karena menyadari jika tentara kita dengan persenjataan dan strategi yang konvensional (bertempur secara langsung di medan perang), tidak akan mampu menghadapi Belanda. Untuk menghadapi serangan Belanda, perlu dibuat kantong-kantong gerilya. Dengan konsep tersebut maka dibentuklah Wehrkreise (daerah pertahanan) untuk menghadapi tentara Belanda yang lebih kuat persenjataannya.

Diorama 1
Diorama ketika pasukan Tjakrabirawa masuk kerumah Jenral AH Nasution

Untuk merealisasi pendapatnya tersebut, menurut Nasution diperlukan syarat-syarat, yaitu: membentuk pemerintahan militer gerilya sampai tingkat terendah di kelurahan/desa, melaksanakan politik non-kooperasi dan non-kontrak yang tegas, Serta me-wingate-kan atau menginfiltrasikan pasukan-pasukan ke daerah pendudukan Belanda di Jawa khususnya dan di daerah seberang (luar jawa) pada umumnya.  Gagasannya tentang perang gerilya dituangkannya dalam buku “Strategy of Guerilla Warfare. Karya ini menjadi buku wajib Akademi Militer di sejumlah negara.

Jenderal Nasution dikenal sebagai pengarang buku produktif. Dia banyak menulis buku di antaranya 11 jilid buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Bukunya Pokok-Pokok Gerilya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Konon, Vietcong belajar dari buku Nasution saat perang melawan Amerika Serikat di Vietnam. Nasution juga menulis memoar berjudul Memenuhi Panggilan Tugas sebanyak 8 jilid. Nasution meninggal dunia pada 5 September 2000. Jenazahnya dimakamkan di TMP Kalibata.

Iklan

3 thoughts on “(Napak Tilas) Museum AH Nasution, Sang Ahli Strategi Perang Gerilya”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s