Tujuh Jawara Satu Indonesia Award 2017

Inilah Tujuh Pemuda Penyulut Api Inspirasi Satu Indonesia Award 2017


Hampir setiap tahun, kita bangsa Indonesia memperingati peristiwa nasional “SUmpah Pemuda” dimana pada 1928 lalu para pemuda Indonesia yang berjiwa nasionalis melalui suatu kongres Pemuda Indonesia telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda, menetapkan tujuan nasional yakni “satu negara – Negara Indonesia, satu bangsa – Bangsa Indonesia dan satu bahasa bahasa Indonesia. Dipundak pemudalah harapan dan tumpuan bangsa diletakan, tanpa peran pemuda dan pemudi bangsa ini tak akan menjadi bangsa yang besar dan tak akan menjadi bangsa yang dihargai dan dihormati oleh bangsa lainnya bahkan dalam pribahasa mengatakan suatu bangsa yang besar tak akan menjadi besar dan dihargai oleh bangsa lainya melainkan peran pemuda dan pemudi yang semangat dan jiwa nasionalismenya sangat tinggi.

Satu Indonesia Award 2017
Batik Bantengan adalah hasil gabungan dari bakat, keahlian, ketekunan dan cinta salah satu jawara Satu Indonesia Award 2017

Bahkan Bapak Proklamator pernah mengatakan “Beri saya 10 pemuda makan akan ku ubah dunia”  ini jelas menunjukan bagaimana peran pemuda sangatlah penting dalam mengisi kemerdekaan sekarang ini. Ditengah modernisasi pembangunan dan persaingan yang keras saat ini, dimana semua orang berlomba untuk menunjukan eksistensi dirinya sendiri, bukan hal mudah untuk menemukan pemuda pemuda yang mau mendedikasikan dirinya menjadi api inspirasi negeri. Tidak mudah bukan berarti tidak ada, seperti pada apa yang telah dilaksanakan PT ASTRA dalam menemukan ‘mutiara bangsa’ dalam kompetisi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Award 2017. Melalui serangkaian upaya seperti penjaringan awal, seleksi persyaratan, peninjauan lokasi, analisis proses kerja serta dampak program bagi masyarakat sekitar, pada akhirnya Dewan Juri memilih 7 ‘mutiara bangsa’ tingkat nasional dari 82 penerima tingkat propinsi yang berasal dari Sabang sampai Merauke.

“Mereka memiliki kontribusi positif terhadap lingkungan sekitar tanpa memikirkan keuntungan pribadi yang akan diterimanya. Itu adalah wujud kunci utama dimana memberi kebahagiaan bagi orang lain, maka secara tidak langsung kebahagiaan akan mereka miliki. Astra mengapresiasi tindakan mereka melalui ajang ini dan akan mendampingi pengembangan kegiatan selanjutnya,” ungkap Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto.

Dalam proses pencarian, Astra didukung oleh Dewan Juri yang kompeten dan memiliki nilai-nilai sejalan dengan filosofi Astra. Mereka adalah Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia Prof. Emil Salim, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Nila F. Moeloek, Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Fasli Jalal, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Tri Mumpuni dan Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo.

Satu Indonesia Award 2017
“Kita menjadi optimis setelah melihat kiprah pemuda-pemudi ini tanpa pamrih di daerah mereka masing-masing. Mereka perlu diangkat supaya dampak positif yang dilakukan bisa lebih luas. Menurut saya, program ini dapat menjawab tantangan Indonesia untuk memberdayakan pemuda-pemudi kreatif dalam menyongsong Sumpa Pemuda,” Prof. Emil Salim.

“Astra mencari anak­-anak muda yang memiliki semangat me­nyala. Anak-anak muda yang mengerjakan tugas di ambang batas/beyond duty. Kami tidak mencari orang yang bekerja dengan biasa, tapi mencari tokoh-tokoh yang menginspirasi banyak orang karena kecintaannya terhadap pekerjaan­nya,” tambah Emil Salim.

Tujuh Mutiara Bangsa Penyulut Inspirasi

Untuk Satu Indonesia Award 2017, tahun ini pendaftar berasal dari bidang kewirausahaan berjumlah 1.455 orang, diikuti 1.130 pendaftar dari bidang pendidikan, 400 pendaftar dari bidang lingkungan, 132 pendaftar dari bidang teknologi, dan 117 pendaftar dari bidang kesehatan. Jumlah peserta juga masih didominasi peserta individu sebanyak 2.045 orang, disusul peserta kelompok sebanyak 1.189 orang. Pendaftar pria juga masih menjadi peserta mayoritas dengan jumlah pendaftar 2.204 orang, sementara peserta wanita sebanyak 1.030 orang.

Dalam Satu Indonesia Award 2017 ini PT ASTRA mulai mengangkat para penerima apresiasi dari masing-masing provinsi. Total ada 82 anak muda dari 30 provinsi di seluruh Indonesia yang berhasil mendapatkan penghargaan dalam lima bidang kategori SATU Indonesia Awards, sementara empat provinsi lain yakni, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Papua dan Papua Barat, belum memiliki wakil karena belum memenuhi persyaratan nilai minimum. Dari 82 pemenang provinsi ini, terpilihlah tujuh pemuda penylut api inspirasi yang dinilai telah menyebarkan inspirasi bagi sekitarnya.

  1. Relawan Edukasi Preventif Bahaya Human Trafficking dari Tambolaka”, Ronaldus Asto Dadut – TambolakaNusa Tenggara Timur
     

    Diawali keprihatinan yang ia rasakan saat menjemput buruh mi­gran yang dipulangkan dari Malaysia, mahasis­wa Fakultas Kesehatan Masyarakat Univer­sitas Nusa Cendana ini mendirikan komunitas untuk mengedukasi warga pedalaman di Sumba Barat Daya mengenai kesehatan dan human trafficking (penjualan manu­sia). Jaringan Relawan untuk Kemanu­siaan (J-RUK) Sumba didirikan tahun 2012 dengan gerakan Stop Bajual Orang.

    Satu Indonesia Award 2017
    Relawan Edukasi Preventif Bahaya Human Trafficking dari Tambolaka”, Ronaldus Asto Dadut – Tambolaka, Nusa Tenggara Timur

    Selain memberikan sosialisasi melalui video, Asto juga melakukan upaya kuratif, seperti penanganan psikologis untuk para mantan buruh dan pendampingan bagi anak-anak prasejahtera yang sakit agar di­rawat atau dirujuk ke rumah sakit.

    2. “Pendamping Masalah Kejiwaan”, Triana Rahmawati – Surakarta, Jawa Tengah

    Triana Rahmawati menunjukkan kepeduliannya terhadap orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) yang banyak ia temui di sekitaran kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bersama dua teman kampusnya, Febrian­ti Dwi Lestari dan Wulandari, gadis kelahiran 15 Juli 1992 ini, membentuk Embrio Griya Sc­hizofren dengan filosofi Social, Humanity Friendly pada tahun 2013.

    Mereka ingin menggugah kesadaran ma­syarakat dan keluarga un­tuk menerima dan memer­hatikan penderita ODMK. Salah satu tempat yang di­gunakan penggagas Griya Schizofren untuk melaku­kan aktivitasnya adalah Griya PMI Peduli Solo yang bekerja sama dengan Dinas Sosial Solo untuk merawat ODMK yang terjaring saat razia di jalanan dan ODMK yang keluarganya tidak mampu. Griya PMI Solo saat ini merawat 150 jiwa ODMK yang mereka sebut sebagai warga dengan berbagai tingkat kondisi penyakit ke­jiwaan.

    3. “Sang Pencerdas Anak Petani dari Gowa”, Jamaluddin – Gowa, Sulawesi Selatan

    Tanah kelahiran Jamaluddin, Desa Kanre­apia di Gowa, Sulawesi Selatan, berada di dataran tinggi dengan tanah yang subur. Desa ini dikenal sebagai desa dengan ting­kat ekonomi cukup baik dimana pertanian menjadi sektor utama yang menopang penghasilan daerah. Sayangnya, meskipun secara ekonomi mencukupi, ting­kat pendidikan masyarakat di sana masih sangat rendah. Banyak ditemui anak yang baru SD kelas 2 sudah putus sekolah kemu­dian memilih bekerja. Penduduk desa juga tidak terlalu berminat memberikan pendidikan un­tuk-anak-anak mereka dan lebih suka langsung meni­kahkan anaknya pada usia belia.

    Jamaludin Rumah Kertas
    “Sang Pencerdas Anak Petani dari Gowa”, Jamaluddin – Gowa, Sulawesi Selatan

    Adalah Jamaluddin yang tergerak hatinya untuk memberikan edukasi tentang pen­tingnya pendidikan dan literasi. Pada 2011, dia mulai mengenalkan pentingnya membaca dan berorganisasi ke­pada para petani. Hal ini terus dilakukan hing­ga akhirnya pada 2016 terwujudlah Ruman Koran sebagai tempat para petani membaca dan belajar berorganisasi. Rumah Koran dapat diartikan sebagai rumah untuk membaca, menggali informasi, pengetahuan, berdiskusi, serta belajar mengeja dan membaca buku melalui surat kabar harian (koran).

    4. “Transformer Pembalak Liar”, Ritno Kurniawan – Padang Pariaman, Sumatra Barat

    Hati Ritno Kurniawan tersentuh ketika melihat dengan mata kepala sendiri rusaknya lingkungan dan kekayaan hayati hutan adat Gamaran serta Bukit Barisan di daerah kelahirannya di Padang Pariaman akibat pembalakan liar. Setiap hari, sekitar 10-15 gelondong kayu dihanyutkan di sungai yang airnya sangat jernih. Ia khawatir, jika terus dibiarkan, sungai yang jernih akan berubah keruh, bahkan kering, dan pemandangan pohon yang rimbun ber­ganti menjadi tanah gersang.

    Berawal dari kegelisahan ini, Ritno ter­pacu untuk bertindak. Ia memiliki ide “menjual” potensi ekowisata di korong (du­sun) Gamaran Lubuk Alung, Padang Pari­aman, dengan wisata Air Terjun Nyarai. Meski awalnya kehadiran Ritno dicurigai warga, ia akhirnya mulai diterima dan diizinkan untuk membuka jalur tracking ke Air Terjun Nyarai.

    Dalam hitungan bulan, pengun­jung sudah mencapai 25-30 orang. Masyarakat akhirnya melihat, dengan menjadi pemandu wisata, mereka bisa mendapatkan uang yang sama, bahkan lebih besar, daripada ketika mereka menebang pohon. Oleh dinas terkait, Ritno disarankan untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se­hingga pada 2013 terbentuk Pokdarwis bernama LA Adventure (Lubuk Alung Adventure). Kini, LA Adventure sudah memiliki kurang lebih 170 pemandu.

    5. “Anjani, Si Batik Bantengan”, Anjani Sekar Arum – Malang, Jawa Timur

    Batik Bantengan adalah hasil gabungan dari bakat, keahlian, ketekunan dan cinta. Anjani Sekar Arum memulainya pada Agustus 2014 dengan mendirikan sanggar dan galeri batik Andaka di Kota Batu, Malang. Ia kemudian mendesain sendiri motif kain batik Bantengan. Mewarisi bakat melukis ayahnya, perempuan 26 tahun ini juga mengasah keahliannya di Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

    Pada 2010, Anjani mulai membatik dan baru membuat pameran empat tahun kemudian. Pada satu kesempatan, istri Walikota Batu Dewanti Rumpoko mengajaknya pameran di Praha, Republik Ceko. Dua pekan menuju hari H, Anjani hanya sanggup membuat 10 lembar kain. Ternyata tidak mudah mencari pembatik yang tekun dan bagus. Tak lantas patah semangat mencari pembatik, pada 2015 ia bertemu dengan Aliya, gadis berusia 9 tahun yang tertarik mempelajari cara membatik. Sejak itu, Anjani memilih melatih anak-anak menjadi pembatik di sanggarnya.

    Sampai kini, sudah 58 anak yang belajar di sanggarnya, 28 di antaranya menjadi pembatik aktif. Setiap bulan, Sanggar Andana rata-rata menghasilkan 45 lembar kain batik. Setiap lembar dijual Rp 300 ribu-750 ribu. Dari setiap kain yang terjual, Anjani hanya mengambil 10 persen. Uang itu digunakannya untuk membeli kain, pewarna, dan perlengkapan lain. Selebihnya menjadi hak para pembatik anak-anak. Tak jarang, Anjani menguras gajinya yang tak seberapa sebagai guru honorer di SMPN I Batu untuk menambal berbagai biaya sanggarnya.

    6. “Pembaru VCO dari Tadulako”, Bambang Sardi – Palu, Sulawesi Tengah

    Selama setahun, Bambang Sardi mencoba metode baru pembuatan minyak kelapa murni (virgin coconut oil/VCO). Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako, Palu, ini menggunakan metode fermentasi anaerob dan tidak menggunakan pemanasan dalam pembuatan VCO. Selama ini, masyarakat Sulawesi Tengah memakai cuka dan pemanasan untuk memproduksi VCO. Pria 31 tahun ini tertantang mengoptimalkan pemanfaatan kelapa yang melimpah ruah di daerahnya.

    VCO
    “Pembaru VCO dari Tadulako”, Bambang Sardi – Palu, Sulawesi Tengah

    Setelah melakukan percobaan berulang kali, Bambang akhirnya bisa memproduksi VCO pada 2016. Metode fermentasi anaerob adalah fermentasi yang tidak menggunakan bakteri dan tidak memerlukan oksigen dalam proses penguraian. Dalam pembuatan VCO ini pula, Bambang memanfaatkan seluruh material yang berasal dari buah kelapa, seperti air kelapa dan ampas kelapa, sehingga tidak ada yang terbuang percuma.

    Untuk mendapatkan VCO murni, Bambang menggunakan kertas saring Whatman No. 40 sebanyak enam lapis. Produk ini memiliki kandungan asam laurat yang lebih tinggi, di atas 50%. Asam laurat ini dapat berfungsi, antara lain, sebagai anti virus, anti jamur dan anti bakteri.

    7. “Penyuluh Penangkapan Ikan Sidat Ramah Lingkungan”, PPILAR – Bengkulu, Provinsi Bengkulu

    Tiga pemuda bergabung dalam Pelopor Penangkapan Ikan Sidat Liar (PPILAR) di Bengkulu. Mereka adalah Randi Putra Anom, Akri Erfianda dan Rego Damantara. Sejak 2016, mereka mensosialisasikan penangkapan ikan sidat ramah lingkungan dengan alat tradisional, Bubu, kepada nelayan Desa Rawa Makmur dan Arga Makmur, Bengkulu. Ikan sidat masih hidup ketika ditangkap. Dalam keadaan hidup, ikan sidat dihargai cukup mahal, Rp45.000 per kilogram. Kualitasnya pun lebih baik, dan ikan sidat bisa dibesarkan hingga layak konsumsi (200 gram).

    Sebelum ini, sejak 2006, kebanyakan nelayan di sana menggunakan setrum sehingga ikan hasil tangkapan mereka dalam keadaan mati. Harganya pun hanya Rp20 ribu per kilogram. Selain itu, sebagian ikan sidat yang dibesarkan akan dilepaskan kembali ke muara.

    Kini sudah 20 nelayan yang bergabung di PPILAR, 15 orang di Kota Bengkulu, di Bengkulu Utara sebanyak 2 orang, dan di Bengkulu Selatan sebanyak 3 orang. Rata-rata, seorang nelayan bisa menangkap 15-25 kg ikan sidat per minggu.

    Pada prinsipnya, di mana pun instalasi Astra berada harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma Astra, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s