Sate Blengong Brebes

Menikmati Kupat Glabed dan Sate Blengong Kuliner Khas Brebes


Jam menunjukan pukul 19.05 ketika kereta api yang saya naiki mulai memasuki Stasiun Tegal, terlambat 7 menit dari jadwal yang tertulis di tiket kereta, ah tentunya ini sudah bisa dikatakan tepat waktu karena dulu dulunya perjalanan kereta api bisa molor lebih dari dua jam, namun itu adalah cerita usang karena kita tahu bahwa PT KAI sekarang sudah berubah. Berubah sama seperti kita yang berubah seiring dengan perjalanan waktu, apakah berubah jadi lebih buuruk atau berubah menjadi lebih baik, itu semua kembali ke kita. 

Transportasi Online Kota Tegal

duh kok jadi ngelantur ya, …. Kereta Kaligung yang saya naiki hanya sampai di Stasiun Tegal, dan untuk melanjutkan perjalanan saya harus berganti kendaraan. Sebetulnya Kereta Kaligung ini pada jam tertentu tujuan akhirnya adalah Kota Brebes, namun entah kenapa saat trip terakhir hanya sampai di Stasiun Tegal.

Mungkin bagi rekan yang belum tahu, Kereta Kaligung merupakan kereta domestik yang melayani perjalanan sekitar Pantura, pada pagi hari jam 04.45, jam 9.45 dan 12.15 setiap harinya perjalanan di mulai dari Stasiun Brebes dan mengakhiri tujuan di Stasiun Pontjol Semarang. Untuk Jadwal baliknya jika ingin sampai Stasiun Brebes hanya dilayani pagi hingga siang, makanya karena perjalanan kali ini merupakan trip terakhir kereta maka hanya sampai di Tegal.

Suasana malam alun tegal
Suasana malam alun tegal

Baca juga : Brebes ada apa denganmu !

Setelah seharian beraktivitas di Semarang, malam hari ini saya ada janji dengan mitra baru saya untuk bisa berjumpa dan berdiskusi di Kota  Brebes dan tentunya juga sekalian pulang kampung. Keluar Stasiun Tegal saya tidak langsung menaiki kendaraan tapi berjalan kaki menelusuri jalan menuju alun alun Tegal yang semakin semarak dengan pedagang malam dan lampu lampu kota.

Bagi pecinta kuliner yang singgah di Tegal jika ingin berburu kuliner bisa datangi pojok alun alun ini, banyak pedagang yang menjajakan beraneka makanan, dari khas  Tegal seperti Sate Kambing Muda, Bakso atau mencoba Sate Blengong dan Kupat Glabednya. Tapi kali ini saya tidak mencicipi kupat glabed Tegal, karena sesuai dengan janji saya akan menemui mitra baru saya di alun alun Brebes sekalian mencicipi Kupat Glabed di Brebes.

Setelah puas menikmati malam di alun alun Tegal, kini saatnya menuju Kota Brebes, hmm naik apa yah, kan kalau sudah malam tidak ada kendaraan untuk kesana, bahkan dari terminal Tegal sendiri sudah bakalan sepi yang ada hanyalah bus bus ke kota seperti Jakarta dll.

Namun di era digitalisasi saat ini, kenapa harus bingung untuk mellakukan sebuah perjalanan, toh di Tegal Brebes juga Pekalongan juga sudah mengadopsi technologi digital termasuk juga untuk angkutannya.

Disini kita bisa menggunakan aplikasi Go-JEK untuk bisa berkeliling kota. Dari alun alun Tegal menuju alun alun Brebes yang berjarak kurang lebih 15 km cukup membayar Rp 20.000,- ah tentunya ini lebih murah dibandingkan kalau naik taksi disini yang bisa mematok harga Rp 100.000,- atau kalau naik angkot yang nyambung nyambung habisnya bisa Rp 30.000,-an.

Nikmatnya Kuliner Malam di Kota Brebes

Perjalanan memakai moda transportasi GO-JEK dari Kota Tegal ke Alun-alun Brebes hanya memakan waktu tempuh 20 menit dengan jarak kurang lebih 15 -18 km, ini lebih cepat ketimbang ketika harus menggunakan transportasi angkutan karena harus berganti ganti kendaraan.

Bagi saya pribadi keberadaan transportasi online ini (daring) sangat  dibutuhkan meskipun ada yang memprotes keberadaanya, mengingat Kota Brebes sangat minim sekali moda transportasi yang memadai. Contoh saja, sela aini jika saya hendak ke rumah dari alun alun harus naik becak tarufnya sekitar Rp 20.000,- tapi jika menggunakan GOJEK cukup membayar Rp 5000,- nah murahkan.

Suasana Masjid Agung Brebes Malam dan Siang
Masjid Agung Kota Brebes

Suasana alun-alun Brebes saat malam sungguh sangat semarak,  bukan hanya ramai oleh para pedagang makanan namun juga pedagang mainan anak anak  yang bisa dyterbangkan dengn kelap kelip lampu LEDnya. Lokasi tempat saya janjian ada di sebrang Masjid Agung Brebes.

Oh ya  Masjid Agung  ini merupakan salah satu bangunan masjid tertua di kawasan pantura, Brebes, Jawa Tengah., yang didirikan tahun 1836 masa pemerintahan Bupati Raden Adipati Ariya Singasari Panatayuda. Disamping fungsi utamanya sebagai tempat ibadah shalat, lokasinya yang sangat strategis yaitu di jalur pantura, ini sering digunakan juga sebagai tempat istirahat bagi masyarakat yang melintas baik dari arah Barat (Jakarta, Cirebon) maupun dari arah Timur (Semarang, Surabaya).

Bicara Brebes, semua orang tahu bagaimana rasa telor asin khas Brebes yang berbeda rsanya dengan kota lainnya, namun kuliner Brebes masih banyak lainnya dan salah satu yang cukup memanjakan lidah adalah Kupat Glabed yang dipadu dengan Sate Blengong.

Menikmati sate blengong Sudah menjadi hal yang tak lagi asing di lidah orang Brebes atau yang pernah singgah di Brebes, dengan menikmati langsung di alun-alun sembari melihat indahnya suasana alun-alun. Sate yang berasal dari daging sejenis itik ini, yang disebut blengong lebih rendah lemak. Sehingga yang memiliki masalah dengan kolestrol tidak perlu khawatir, ditambah dengan daging blengong yang empuk dan tidak amis membuat panganan ini menjadi primadona.

Sate blengong ini semakin komplit dipadu dengan kupat glabed, sebetulnya kupat itu sudah menjadi makanan umum di Indonesia, namun yang membedakan adalah sayuran santan yang kental dengan dibumbui rempah-rempah yang membuat aroma dan rasa yang memanjakan lidah.

Nah makanya jika kebetulan lewat Kota Brebes jangan hanya beli telor asin atau bawang merah saja, tapi isi perut mu dengan kuliner yang gurih pedas dan kuah yang kental (glabed) dengan taburan bawang goreng ini, dijamin perutmu akan kenyang dan perjalanamu akan semaki menyenangkan.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Menikmati Kupat Glabed dan Sate Blengong Kuliner Khas Brebes”

  1. wah jsayang sekali jaraknya jauh harus ke brebes untuk bisa menikmati makan ini. hehe.

    oiya, saya mau ngasih saran mba. untuk penulisannya artikel usahakan menggunakan spasi eh paragraf maksudnya, saya sarankan setiap paragraf memilioki 3-5 baris. kalo perparagraf memiliki 5-10 baris kelihatan tulisannya menumpuk dan tidak rapi menurut saya.hehee viss #CMIIW

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s