Tawa, Canda dan Wejangan Terakhirmu

Bahwa didunia ini tidak ada yang abadi, bahagia ataupun luka, karena suatu saat kita bisa saja menertawakan rasa yang dulu sakit, dan bisa saja kita menangisi hal yang telah membuat kita tertawa.


Waktu ashar sudah lama lewat, namun saya masih berputar putar menelusuri jalanan yang saya sendiri belum tahu sampai mana ujungnya. Setelah gagal menaklukan tanjakan Pegunungan Lio Brebes, saya berputar arah kembali ke jalanan semula saya datang, bukan menyerah namun saya harus tahu diri, jika memang tak mampu saya raih “puncak” itu saat ini semoga dilain waktu saya bisa kembali mendapatkan keindahannya.

Kawasan Pegunung lio Brebes Selatan
Kawasan Pegunung lio Brebes Selatan

Kembali handphone saya berbunyi, setelah menepikan motor matic jadul, saya jawab panggilan yang entah udah keberapa kali, “Mas, sudah sampai mana? posisinya sekarang dimana?  Sebetulnya malu tersasar diwilayahnya sendiri, ternyata kali ini saya dikerjain app googlemaps, yang malah membawa saya entah kemana.

Baca : 39 days #2 (Jejak pajajaran majapahit)

Akhirnya berkat panduan kawan yang lebih dari saudara, sampai juga di desa yang saya kenal. Meskipun sudah sangat lama sekali tidak main ke desa yang pernah ada cerita tersendiri bagi saya. Menjelang maghrib akhirnya sampai di alun alun Brebes, mampir dan menikmati sepoci teh tubruk dengan gula batu dan tidak ketingggalan adalah menu wajib setiap pulang ke Brebes, seporsi kupat glabed dengan sate blengongnya.

Baca : Menikmati Kupat Glabed dan Sate Blengong Kuliner Khas Brebes

Lelah setelah mengeksplor Brebes bagian selatan, terasa tertuntaskan setelah seteguk teh hangat menelusuri kerongkongan. Teh poci gula batu, bagi saya adalah minuman favorite kedua setelah kopi hitam, minuman yang biasa saya nikmati setiap malam bersama kawan karib sambil bercerita dan tertawa.

Selamat Jalan Kawan

Jam menunjukan pukul 11.00 wib tapi gerbang masuk ke kawasan magrovesari sementara ditutup, membludaknya pengunjung ke kawasan hutan mangrove memaksa petugas melakukan buka tutup gerbang, tentunya agar wisatawan yang kebanyakan lokal ini tidak mengumpul di lokasi dermaga perahu yang akan mengantarkan wisatawan ke hutan mangrove dan pulau pasir.

Rangon Sungai Tayep Sigempol
Rangon Sungai Tayep Sigempol

Untuk kali ini tidak seperti biasanya memancing di Pulau Hantu, saya akan mencoba memancing di kawasan mangrovesari dan untuk pertama kalinya juga tanpa ditemani kawan yang selalu menamani. Kebetulan hari ini dia harus mengantarkan seseorang untuk berangkat ke Solo. Saya lebih memilih ke kawasan mangrovesari karena harapannya saya bisa mendapatkan kepiting bukan lagi mengejar ikan kakap.

Baca : Menelusuri jejak Pulau Hantu Brebes

Setelah menelusuri kawasan hutan mangrove yang hari ini sangat padat dengan pengunjung, akhirnya saya sampai di penghujung kawasan dan memasuki saung yang terlihat sepi. Saung yang sangat mewah karena dilapisis dengan karpet, sambil membuka bekal yang dibawa dari rumah dan menyantapnya, saya mempersipkan kail keberuntungan.

Memancing di Pemali

Belum sempat kail pancing saya lemparkan, dering telepon berbunyi, sempat tersentak hatiku kawan mendapat kabar beritamu, ku sangkal bahwa itu bukan kamu,  namun tetap saja mbakku memastikan itu adalah dirimu, yang telah pergi mendahului menghadap padaNya.

Malam ini kawan, selepas pulang dari rumahmu untuk membacakan doa bersama untukmu, masih dihalaman musholla saat malam kita moci bareng ditemani sepiring tempe mendoan yang kamu minta, meskipun untuk membelinya kita harus menerobos derasnya hujan. Ditempat yang sama saat kita bersama, dengan suasana hujan yang sama, mata ini hanya bisa menatap kosong lantai mushola yang membisu sepi.

Kawan, sejujurnya malam ini pikiranku kosong, draft-draft cerita perjalanan nyasar yang saya ketik semalam, yang kamu tertawai melihat kebodohanku dengan tersesat di kotanya sendiri cuma menjadi draft-draft hampa. Kepergianmu lebih menyisakan pedih dan sedih melebihi kesedihanku karena kepergian dan kehilangan dirinya.

Benar katamu kawan, bahwa didunia ini tidak ada yang abadi, bahagia ataupun luka, karena suatu saat kita bisa saja menertawakan rasa yang dulu sakit, dan bisa saja kita menangisi hal yang telah membuat kita tertawa.

Selamat jalan kawan, semoga kamu tenang di alam sana, dibukaNya pintu pintu syurga untukmu, semoga pada hari akhir kita bisa berkumpul kembali bersama.

Iklan

Penulis: thoriqalfatah

Hai , I'm Thoriq, bukan penulis cuma suka iseng nyoret nyoret, kesukaan touring dan kegiatan sosial lainya, kontak saya on azollamexicana@gmail.com :) wa 08159687872

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s