Menelusuri Jejak Misteri Majapahit di Gunung Lawu (Part 1)

Menelusuri gunung Lawu

Pagi masih berselimutkan kabut, dicumbu udara dingin dengan gerimis menetes lirih ke tanah seakan enggan mengejutkan penghuni mayapada yang masih terlelap dalam mimpinya. Terasa sekali kehidupan masih berjalan malas, ditengah keremangan pagi Kota Solo.

Nampak diufuk timur semburat merah jingga mulai menebarkan pesonanya, seakan ingin menunjukan bahwa sang surya sebentar lagi akan menebarkan cahayanya dan bersiap menyeruak rimbun daun di pepohonan. Disebuah ruang tunggu, saya masih mencoba tetap terjaga dari rasa kantuk dan mengalihkan dengan membaca artikel hasil diskusi tentang naskah kuno nusantara.

Alih alih membaca artikel, pikiran saya malah teringat cerita panjang salah satu peserta diskusi panel tentang Kerajaan Majapahit, Gunung Lawu hingga pelarian sang rabu degan pengikutnya yang akhirnya karena kegeramannya, menyatakan sebuah sumpah yang konon hinggga saat ini masih berlaku.

Jalur menuju Pos Pendakian via Cetho
Jalur menuju Pos Pendakian via Cetho

Seperti yang diceritakan dalam Serat Pararaton, jelang akhir abad XV, Majapahit mengalami zaman yang orang menyebutnya kala bendu dimana saat itu keluarga kerajaan memasuki masa kritis.karena timbulnya pergolakan yang dilakukan oleh putra-putra raja. Dan salah satunya adalah yang dilakukan oleh Raden Patah, yang merupakan pendiri kerajaan islam Demak. Dan karena pemberontakan inilah akhirnya sang prabu dengan pengikut setianya yang tersisa, melarikan diri ke gunung lawu.

Peningggalan Prabu Brawijaya V di Lereng Lawu

Pagi ini, dikeremangan pagi dan dinginnya kota Solo dengan setia saya menunggu dan menunggu kamu, untuk kembali mengisi hari libur dengan menelusuri lereng Gunung Lawu. Bagi saya perjalanan ini sangat istimewa, karena bukan hanya mendaki gunung. Gunung Lawu memang sangat istimewa bukan hanya karena alamnya yang indah, namun juga  memiliki latar belakang sejarah yang unik bagi Tanah Jawa.

Kabut disertai gerimis pagi yang menemani perjalanan menuju basecamp pendakian via Candi Cetho tidak menjadi penghalang berarti, karena semangat saya untuk bisa menjejakan kaki di lokasi yang pernah dijadikan lokasi pelarian penguasa tanah Jawa bahkan menguasai seantero nusantara.

Bulak Peperangan Gunung Lawu
Bulak Peperangan Gunung Lawu

Pendakian gunung lawu yang seperti kita tahu, memang ada beberapa jalur pendakian, dan umumnya para pendaki lebih memilih lewat Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang, mengingat lewat kedua jalur itu lebih cepat mencapai puncak.

Untuk pendakian via candi cetho ini memang sangat berbeda, bukan hanya jalurnya yang sangat panjang bisa mencapai 10 jam perjalanan, suguhan panorama alam yang indah dan juga disini kita akan melewati peninggalan bersejarah berupa candi-candi yang (konon) merupakan peninggalan Prabu Brawijaya V selama pelariannya dari kejaran pasukan pemberontak. Karena hal inilah, jalur cetho dikenal juga sebagai jalur pendakian spiritual.

Kepercayaan leluhur merupakan kepercayaan yang dianut banyak masyarakat Majapahit, bahkan kepercayaan ini tetap bertahan pada waktu agama Islam mau masuk pada masa masa akhir pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Konsep yang mendasari kepercayaan leluhur ini beranggapan bahwa alam semesta didiami oleh makhluk halus atau roh-roh yang mempunyaimkekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia. Dan makhluk halus ini dapat diajak bekerjasama  untuk melindungi manusia dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

Kompleks Candi Cetho Gunung Lawu
Kompleks Candi Cetho Gunung Lawu

Candi Cetho

Gunung Lawu via cetho memiliki beberapa hal unik mulai dari peningggalan sejarah, mitos, misteri dan peninggalan Prabu Brawijaya yang selalu menjadi cerita turun temurun masyarakat di sekitar kaki gunung lawu ini.

Menurut cerita warga,  Candi Cetho merupakan gerbang masuk ke Gunung Lawu karena Hargo Dalem yang merupakan lokasi moksa Prabu Brawijaya V menghadap ke arah Candi Cetho. Hingga saat inipun masyarakat masih sangat percaya , Candi Cetho diyakini merupakan peninggalan  sang prabu yang belum selesai dikerjakan, karena disaat pembangunannya pasukan yang dipimpin Adipati Cepu masih selalu melakukan pengejaran.

Candi Kethek Lawu

Candi Kethek

Setelah melewati kompleks Candi Cetho, kita akan melalui jalan setapak yang berbatu dengan kondisi yang naik dan menurun, meskipun hanya berjarak sekitar 300 meter namun cukup menguras tenaga untuk mencapai Candi Kethek.

Nama kethek diberikan oleh warga karena dahulunya disekitar candi ini banyak dijumpai hewan kethek atau kita mengenalnya sebagai kera. Dan jalur pendakian via Cetho ini dimulai dari belakang candi Kethek. Suasana mistis sangat saya rasakan disini, mungkin karena saat melewati lokasi cuaca mendung sehingga suasana sangat temaram dengan rerimbunan pohon.

Bubulak Peperangan

Pengejaran Prabu Barwijaya oleh pasukan yang dipimpin Adipati Cepu tidak berhenti hanya sampai di Candi Cetho saja, pasukan cepu terus mengejar hingga akhirnya terjadilah perang puputan dipuncak lawu, hingga sekarang lokasi terjadinya perang dikenal masyakat sekitar sebagai Bubulak Peperangan.

Savana Gunung Lawu
Savana Gunung Lawu

Karena pengejaran inilah hingga akhirnya Prabu Brawijaya V, memaklumatkan sebuah sumpah yang tetap diyakini oleh masyarakat sebagai kutukan untuk masyarakat atau keturunan Adipati Cepu., yang mendaki gunung lawu maka akan mengalami celaka.

“Sawijining ono anggone uwong cepu utawi turunane Adipati Cepu pinarak sajroning gunung lawu bakale kengeng ciloko lan agawe biso lungo ing gunung lawu”

 

 

Iklan

One Comment on “Menelusuri Jejak Misteri Majapahit di Gunung Lawu (Part 1)

  1. Peninggalan budaya Majapahit di Gunung Lawu ini Rupanya masih terawat ya. Syukurlah semoga tetap demikian sampai kapanpun. Agar anak cucu kita suatu saat juga bisa melihat bukti-bukti sisa kerajaan Jawa kuno ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: