Terbawa Lagi Kenangan di Jogyakarta


Menuliskan tentang Jogjakarta, saya jadi teringat dan terngiang lagu Adhitya Sofyan yang berjudul Sesuatu di  Jogja. Mendengarkan lagu ini, pikiran saya semakin dimanjakan dengan segala pesona yang dimiliki oleh Jogja. Menilik sejarah peradaban zaman dulu, Kota Jogjakarta merupakan tempat kediaman bagi Sultan Hamengkubuwana, yakni seorang sultan yang memimpin roda pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dahulu, Kota Jogjakarta dikuasai pula oleh Kerajaan Belanda. Sementara julukan daerah istimewa (DI) sudah ada sejak tahun 1950, hingga sekarang yang semakin menguatkan Kota Jogja sebagai daerah yang memang sangat istimewa.

Selain Sultan Hamengkubuwana, di kota ini hidup pula Adipati Paku Alam, yakni seseorang yang memimpin kerajaan atau Kadipaten Pakualam. Melihat dari sejarah ini, maka tak heran bila Jogjakarta memiliki banyak kebudayaan dan tradisi yang dilahirkan pada masa kesultanan dahulu. Dari segi luas wilayah, ternyata Jogja juga menjadi kota keempat terbesar pada Pulau Jawa. Di wilayah ini, terdapat pula Kecamatan Kotagede yang pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram pada 1575 – 1670 silam. Jadi, jika kamu memiliki kesempatan untuk datang ke kota ini, sempatkan datang ke Kotagede, ya agar bisa sedikit mempelajari tentang budaya dan tradisi Keraton Jogjakarta.

keraton jogya

Sampai di Jogja, sebetulnya saya merasa bingung harus memulai dari mana, sebab budaya, tradisi, sejarah, pariwisata, bahkan kuliner Jogja semuanya menarik untuk didalami dan dipelajari. Banyak orang meyakini, bahwa Jogja bisa menyulap wisatawan yang datang menjadi seorang budayawan dan seniman. Sebab, di kota ini ada banyak sekali sentra kebudayaan yang memberikan magnet yang sangat kuat bagi para pengunjung dalam hal kesenian dan budaya. Menyusuri Malioboro, Prawirotaman, dan spot-spot lainnya yang nyeni banget akan mengubah atmsofer kesenian yang luar biasa. Menyusuri jalan-jalan ini, kamu juga akan bertemu dengan seniman dan budayawan lokal Jogja, sesekali kamu juga boleh bertanya dan melakukan dialog tentang sejarah Jogja sambil menyeruput kopi di angkringan.

Perjalanan wisata saya kali ini, bertitik pada Kaliadem. Tempat ini sesuai dengan namanya “adem”, selain itu tempat ini juga sangat cocok bagi kamu yang menyukai tempat yang bisa mendinginkan pikiranmu melalui pemandangan alam yang luar biasa. Banyak dari kita juga mungkin sudah tidak begitu asing, bila di media sosial khususnya instagram banyak foto diunggah oleh banyak orang dengan latar Gunung Merapi yang sangat gagah tepat di belakangnya. Daerah inilah yang disebut Bungker Kaliadem. Disini, selain kamu bisa belajar sejarah tentang letusan Gunung Merapi dan kawasan sekitarnya, kamu juga akan dimanjakan dengan hawa yang sejuk dan sepi. Cocok sekali bagi kita yang terbiasa dengan hiruk pikuk dan aktivitas sehari-hari yang membuat penat dan sakit kepala, ya! Tempat ini juga dijamin sangat cocok dengan kamu yang memilki jiwa petualang.

merapi

Tidak jauh dari Kawasan Kaliadem dan Kaliurang, kamu tinggal turun sedikit dari bukit akan menemukan Museum Ulen Sentalu. Meskipun terbilang masih baru, namun tempat ini mulai menjadi titik wajib bagi para wisatawan, sebab destinasi wisata ini disebut sebagai destinasi antimainstream. Mengapa demikian? Karena bangunan museum sangat unik nan nyentrik. Museum ini dibangun dan didandani oleh seniman-seniman Yogja di masa lalu. Di museum ini, kamu juga akan bertambah wawasan tentang sejarah Kerajaan Mataram yang termasyur dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan Jogja hingga saat ini. Berjam-jam berada di museum ini, dijamin tidak akan rugi karena kamu bisa membaca sejarah-sejarah penting Jogja. Asal nama Ulen Sentalu ternyata juga memiliki makna yang sangat mendalam, yang jika diartikan berbunyi “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.” Konon, falsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit atau blencong. Blencong inilah yang dijadikan sebagai alat penerangan untuk mengarahkan dan menerangi pertunjukkan wayang kulit, yang kemudian diasosiasikan dengan kehidupan nyata.

Setelah menyepi di Kawasan Kaliadem dan belajar sejarah, saya bergeser ke tempat yan gemerlapan yang pada umumnya sangat disukai oleh para muda-mudi. Tempat ini dinamakan Taman Pelangi. Datang ke tempat ini sudah dipastikan cocok pada malam hari, ya! Taman pelangi Jogjakarta menyuguhkan keindahan warna-warni lampu lampion yang nampak seperti pelangi yang sangat indah. Tempat ini berada di Jalan Padjajaran yang berada di lokasi Museum Monumen Yogya Kembali. Semakin menarik dan wajib untuk didatangi, karena Taman Pelangi tak hanya menyuguhkan gemerlapan lampu-lampu dari lampion, melainkan juga wahana permainan yang lebih kurang berjumlah dua puluh, serta stand-stand makanan dan minuman lebih dari dua puluh lima stand. Tempat ini mulai buka pukul 17.00 wib dan tutup pada 23.00 wib. Kamu juga tidak perlu khawatir, sebab tiket yang masuknyapun sangat murah meriah dan terjangkau, dijamin kantongmu tidak akan sampai bolong.

tugu jogya

Tak tidak terasa, ternyata perjalanan saya di Jogja sudah memasuki hari ketiga alias hari terakhir saya berkeliling di kota istimewa ini. Di hari terkahir ini, saya menyempatkan diri untuk datang ke titik destinasi selanjutnya, yakni ke Hutan Mangrove Kulon Progo. Sebetulnya destinasi ini juga belum lama dikenal, namun dari semenjak buka, kawasan ini selalu dipadati pengunjung. Hutan ini berada di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Jika kamu berangkat dari titik nol, untuk sampai ke tempat ini akan memakan waktu kurang lebih dua jam. Meskipun cukup lama, rasa lelah di perjalanan akan terbayarkan dengan tuntas. Di Kawasan Hutan Mangrove ini, terdapat empat titik wisata yang wajib kamu sambangi satu per satu, yakni Pantai Pasir Kadilungu, Jembatan Api-Api, Maju Lestari dan Wanatirta Pasir Mendit. Walaupun baru beberapa bulan, namun kawasan hutan mangrove ini sudah menyedot ratusan  pengunjung setiap harinya. Ada empat spot objek wisata di hutan Mangrove yaitu Pantai Pasir Kadilangu, Jembatan Api-Api, Maju Lestari dan Wanatirta Pasir Mendit. Di tempat ini kamu juga boleh memilih spot mana saja untuk berfoto. Semuanya bagus dan instamable.

mangunan3

Melengkapi perjalanan di Hutan Mangrove ini, kamu juga bisa mencoba berkeliling hutan dengan menggunakan perahu wisata, boleh mendayung sendiri atau boleh juga minta didayungi oleh pemilik perahu, ya! Jika kamu ingin datang juga dan merasakan pengalaman menarik di Hutan Mangrove ini, kamu sebaiknya datang sejak pagi karena cuaca masih terasa sejuk dan matahri belum terasa terik. Jadi saat berkeliling di kawasan mangrove, kamu tidak merasa kepanasan. Rasanya tiga hari berada di Jogja memang amat kurang. Sedikit tips untuk kamu yang juga merencanakan untuk pergi ke Jogja, ambil cuti yang lebih panjang, waktu yang cocok untuk berkeliling Jogja adalah tujuh hari atau seminggu, selama waktu inilah kamu akan merasa puas berada di Jogja. Sampai bertemu di perjalanan berikutnya, ya!

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 respons untuk ‘Terbawa Lagi Kenangan di Jogyakarta

Add yours

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: