Bukit Holbung, Sumbanya Sumatera


Apapun pekerjaanmu saat ini dan sedang kamu jalani.
Alangkah indahnya jika kamu bisa mencintai dan menikmatinya.
Cintailah pekerjaanmu dengan hati yang penuh rasa syukur.
Dan nikmatilah pekerjaanmu dengan hati gembira dan bahagia.

“Empat hari lagi, kita rapat sekalian survey lokasi di Medan dulu ya soal proyek itu”. begitu pesan pendek yang masuk ke hapeku. Bekerja dengan rasa senang bukan saja mungkin, tapi kebutuhan. Rasa senang, bahagia, nyaman, aman dan tentunya sesuai dengan hobby adalah syarat utama yang diperlukan agar siapapun dapat bekerja dan melakukan yang terbaik. 

Beberapa tahun hijrah dari pekerja menjadi wirausahawan, banyak hal yang didapatkan bukan hanya pengalaman, penghasilan, namun juga kesenangan dapat mengelilingi Indonesia. Dan mengunjungi Kota Medan menjadi salah satu Kota yang sudah kesekian kali yang telah saya datangi baik secara resmi untuk suatu pekerjaan ataupun sekedar jalan – jalan.

Panorama Bukit Holbung
Panorama Bukit Holbung

Beberapa waktu lalu aku sempat bertemu dengan temanku yang berasal dari Medan, konon sih katanya rumahnya tidak jauh dari Danau Toba. Dan dia menceritakan tentang padang rumput yang mirip di daerah Sumba. Cerita temanku ini tentu membuat aku semakin penasaran dengan Sumbanya Sumatera ini. Apa benar iya, seindah itu. Masa sih ada bukit seindah ini di pinggiran Danau Toba? Lalu aku mulai searching di google.

“Hmmm, boleh juga” ucapku dalam hati.

Dan setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan dan urusan survey dari lokasi project yang akan segera dikerjakan di Kota Medan, kini waktunya untuk menikmati waktu dan menyalurkan hobby jalan-jalan menelusuri keindahan alam Indonesia. Setelah membujuk beberapa teman agar mau ikut serta akhirnya Jadilah berlibur ke Bukit Holbung.

Ternyata untuk sampai kesana ada dua rute perjalanan yang bisa ditempuh yaitu:

  • Medan – Kabanjahe – Tele
  • Medan – Siantar – Parapat – Tomok

Kami memutuskan untuk memilih rute nomor dua yaitu melalui parapat. Kami berangkat pagi-pagi sekali dari Medan. Kami naik mobil angkutan kota yang bisa di ambil dari Terminal Amplas Medan,  nama armada bus kami waktu itu adalah KBT (Koperasi Bintang Tapanuli), harga bus ke Parapat sekitar 40 ribu. Kalau kalian naik mobil pribadi juga tidak menjadi masalah. Waktu tempuh sekitar 4 – 5 jam perjalanan hingga kami tiba di Parapat.

Bukit Beta dan danau Toba
Bukit Beta dan danau Toba

Dari parapat kami menyeberang menggunakan kapal Feri untuk sampai di Tomok melalui pelabuhan Tiga Raja. Tak bisa ku pungkiri pemandangan di sekitar danau toba siang itu sangatlah indah. Matahari tidak terlalu terik, langitnya biru bersih, udaranya begitu sejuk sampai di tenggorokan juga air di danau toba yang cukup tenang.

Setelah menempuh penyeberangan sekitar 45 menit, tibalah kami di pelabuhan Tomok. Perut sudah sangat keroncongan, lalu kami makan mie gomak yang katanya khas di daerah batak ini. Mie yang bentuknya seperti spaghetti di cabe serta kuah yang berisi andaliman. Kalian harus rasakan spaghetti khas batak ini. Pedasnya itu loh, terasa banget sampai ke perut. Mak nyoss pokoknya!

Lalu kami menyewa sepeda motor lengkap dengan helmnya. Berangkat dari Tomok, tempat yang pertama kami datangi adalah Bukit Beta. Di sini banyak sekali aktifitas olahraga para layang. Lalu dari Tomok kami Berangkat menuju Simanindo lalu Pangururan hingga akhirnya sampailah di Harian. Waktu tempuh perjalanan kami sekitar 1 jam. Di jalan kami tidak merasakan kejenuhan sebab banyak pemandangan indah yang kami lihat. Yang tentunya tidak kami temukan di kota.

Ternyata rute yang kami tempuh searah dengan salah satu air terjun yang tersohor dari danau toba yaitu Air Terjun Efrata. Namun untuk sampai di Air Terjun Efrata, kita harus belok kanan dari Desa Sosor Dolok sementara ke bukit Holbung kita harus lurus terus menuju Desa Janji Martahan.

Air Terjun Efrata Medan
Air Terjun Efrata Medan

Jalan yang dilalui juga sudah bagus karena jalanan sudah di cor beton. Tak terasa tibalah kami di kaki bukit. Kami memarkir sepeda motor kami lalu menguncinya karena di tempat ini belum ada lahan parkir resmi. Setelah itu kami tracking menuju puncak. Jalannya tidak ekstrim kok, hanya berupa jalan setapak. Lalu akhirnya kita tiba di puncak.

“Amazing” aku hanya bisa terkagum-kagum dan terpesona. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama kali ini rasanya. Hamparan bukti hijau yang luas, langit yang biru serta air biru danau toba. Ah, ini sungguh indah. Ingin rasanya berlama-lama di tempat ini. Kami pun menunggu hingga matahari terbenam. Haduh, indah sekali. Benar-benar indah. Tempat ini seketika berubah menjadi tempat yang begitu romantis. Sayangnya kali itu aku tidak datang bersama pasanganku. Lain kali, harus mengajaknya untuk mengunjungi tempat ini. Kalian juga harus berkunjung ke tempat ini. Harus berkunjung!

“Alam memang selalu memanjakan mata dengan suguhan yang berbeda. Mampu membuat kita jatuh cinta dengan cara yang berbeda dan selalu menggoda kita untuk kembali lagi”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: