Museum Adityaarman Padang

Menelusuri Wisata Sejarah di Museum Padang Sumatera Barat


Dulu kau selalu menjadi alasanku untuk ‘pulang’.
Di kota yang membuatku mengenang segala kenangan yang kita lalui bersama, dulu. Namun, kini, semuanya berubah pilu dan kau tak lagi menjadi alasan dari kepulanganku.

Kota Padang merupakan Kota yang terkenal dengan cerita legenda Malin Kundang ini berbatasan langsung dengan laut dan perbukitan, jadi secara otomatis mempunyai beraneka ragam tempat wisata yang menarik.

Kota Padang memiliki kultur yang sangat beragam, tipe masyarakatnya pun juga beragam, selain itu adat bersandi sarak, sarak bersandi Kitabullah merupakan semboyan masyarakat minang yang melekat hingga kini

Kota Padang ini diasumsikan dengan etnis Minangkabau juga masakan khas mereka yang biasanya di kita kenal sebagai masakan Padang.Bukan hanya hidanganya lezat yang menjadi daya tarik dari kota Padang ini, akan tetapi ada juga wisata alam dan wisata sejarah yang dapat menambah pengetahuan mengenai pendidikan dan kebudayaan Minang.

Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya, Hikayat Tentang Cinta

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi  salah satu objek wisata Museum Adityawarman. Yang berlokasi di Jalan Diponegoro no. 10, Kelurahan Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat, Padang, museum Adityawarman ini merupakan salah satu bangunan yang sangat  penting yang mengangkat sejarah masyarakat Minangkabau dan juga beberapa peninggalan kebudayaannya dimulai pada masa pra sejarah hingga modern.

Setelah saya tiba di tempat museum Asityawarman ini saya melihat berbagai koleksi pernak pernik dari kehidupan masyarakat Minang yang berdiri di lahan yang luasnya sekitar  2,6 hektar dan luas bangunannya kurang lebihsebesar 2.855 meter persegi. Selain itu saya juga melihat beberapa patung dan monumen yang terlihat di halaman museum yang sangat luas ini.

Museum Adityawarman Padang

Museum Adityawarman Padang

Monumen tersebut berdekatan dengan patung pria yang sedang  memegang bambu runcing dan tengah dalam posisi duduk. Dibagian belakang monumen ini juga terdapat tulisan naskah proklamasi dan tanggal 9 Maret 1950, yaitu saat dimana daerah Padang dikembalikan kepada masyarakat Indonesia dengan terbitnya SK Presiden RI Serikat (RIS) no.111.

Sejarah Panjang MInangkabau dan Majapahit

Menurut Sejarah museum Adityawarman yang saya dapatkan setelah kunjungan tersebut. Yang pertama yaitu alasan pemberian namanya terlebih dulu. Pemberian nama yang sama dengan Raja Adityawarman mempunyai  alasan tersendiri, tidak lain untuk menghormati Raja Pagaruyung yang berkuasa pada abad ke 14 Masehi.

Kebesaran Raja ini dipercaya karena adanya prasasti di Saruaso, melalui arca Bhairwa dan candi Padang Roncok di Sijunjung. Selain itu juga ada Replika arca Bhairwa dan Amoghapasa yang merupakan bagian dari koleksi Museum Adityawarman. Kedua arca tersebut merupakan peninggalan dari Kerajaan Dharmasraya yang berdiri sebelum adanya Kerajaan Pagaruyung.

Apa sih arca amoghapasa itu? Arca Amoghapasa adalah salah satu benda peninggalan kerajaan Singasari pemberian Raja Kertanegara dari Singasari untuk Tribhuwanaraja,yaitu sebagai perwujudan Awalokiteswara, yang melambangkan sifat welas asih. Adityawarman menambahkan ukiran pada arcatersebut dengan menyatakan bahwa patung itu menjadi perwujudan dirinya.

Selain dari benda-benda peninggalannya ada juga cerita menarik yang saya baca dari beberapa sumber, yaitu Adityawarman sendiri adalah putra Dara Jingga, yang akan dinikahkan dengan putri Kertanegara dalam sejarah kerajaan Singasari, namun dibatalkan ketika Kerajaan Singasari runtuh.

Bhayangkara Majapahit

Ketika ia beranjak dewasa, Adityawarman dipercaya oleh Raja Jayanegara di Majapahit untuk bernegosiasi dengan bangsa Mongol.  Ia juga meletakkan arca Manjusri (bodhisatwa yang melambangkan kebijaksanaan) di Candi Jago, Malang untuk menghormati leluhurnya. Setelah Jayanegara meninggal, Adityawarman menjadi raja di Kerajaan Dharmasraya.

Nah, dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa Adityawarman adalah seorang pemimpin yang sangat terampil, negosiator unggul dan sangat menghormati leluhurnya. Oleh sebab itu wajar saja jika namanya diabadikan sebagai nama sebuah museum yang menyimpan banyak sejarah masyarakat Kota Padang.

Bentuk bangunan museumnya pun merupakan rumah panggung yang bernama Rumah Bagonjong dengan atap yang berbentuk seperti tanduk kerbau yang bertumpuk, dan tujuh puncak gonjong yang terdapat pada atap museum ini.

Koleksi Museum Adityawarman

 

Nama Adityawarman diresmikan pada tanggal 28 Mei 1979. padahal museum ini sebenarnya sudah diresmikan pada 16 Maret 1977 oleh Mendikbud Prof. Dr. Sjarif Thayeb. Pembangunan museum dimulai sejak tahun 1974 dengan bertujuan untuk menyimpan benda – benda bersejarah atau cagar budaya Minang, Mentawai dan Nusantara. Berdasarkan pentingnya keberadaan sebuah tempat untuk memelihara warisan budaya di Sumatera Barat agar tidak hilang maka museum ini dibuat

Museum Adityawarman ini di juluki sebagai Taman Mini ala Sumatera Barat, sebab museum ini khusus memberi info tentang histori serta budaya suku Minangkabau, selain dari itu di dalam museum ini juga menghadirkan histori dari suku nias serta suku mentawai.

Koleksi Museum Adityawarman

Koleksi Museum Adityawarman

Koleksi yang dapat saya temukan di museum Adityawarman ini di kelompokkan jadi 10 jenis koleksi. yaitubiologika, geologika/geografika, arkeologika etnografika, numismatika historika, keramologika,filologika, seni rupa dan teknologika. Selain itu ada juga Koleksi lain yang ada di museum ini yaitu benda-benda purbakala peninggalan kerajaan Dharmasraya, berbentuk duplikat patung Bhaiwara serta Patung Amoghapasa.

Di atas bangku taman itu, dulu, daun daun musim gugur, debu debu luruh, dan angin yang membisu, adalah saksi akan sebuah tunggu yang beribu

Setelah berada didalam museum, ruangan paling utama museum menghadirkan sistem kebiasaan yang khas orang-orang Minang dengan penjelasan tersturktur tentang bagaimana jalinan kekerabatan dalam kebiasaan Minangkabau. Museum ini menuturkan kesibukan perempuan Minang, di mulai dari mengasuh anak, memasak untuk keluarga serta lingkungan lebih luas, hingga kebiasaan lisan yan sangat pantun. Satu diantara pojok museum juga terdapat ruangan peragaan pelaminan pernikahan kebiasaan Minang.

Selain itu, Museum Adityawarman juga mengoleksi sekitar 13 manuskrip Al-Qur’an dengan kondisi yang masih tertangani. Kertas yang digunakan pada manuskrip ini adalah kertas Eropa, sebagian besar mempunyai cap kertas Propatria serta Singa berpedang. Kulit Al-Qur’an beberapa besar ada yang sudah rusak serta ditukar dengan kain yang dilapis kertas, lalu di beri warna kecoklatan sehingga mirip dengan warna kulit sebagaiman pada dua Al-Qur’an lain yang masih mempunyai cover yang terbuat dari kulit binatang.

Koleksi Sejarah MInang

Koleksi Sejarah MInang

Museum Adityawarman ini  jadikan sebagai tempat pelengkap atau mendukung beberapa hal yang berkaitan dengan pendidikan seperti riset, atau beraneka ragam evaluasi untuk siswa atau mahasiswa. Sehari-harinya Museum Adityawarman didatangi banyak pengunjung, dimulai dari warga lokal sampai wisatawan mancanegara. Apalagi pada saat hari libur, museum ini selalu penuh dengan pengunjung.

Pemerintah setempat  membuat tim kecil yang beranggotakan tenaga preparato,r konservator,edukator,dan perpustakaan. Museum ini memiliki  program seperti pameran keliling dan pameran khusus masing – masing biasanya dua kali dalam setahun, dan acara diskusi 4 kali dalam setahun, workshop 2 kali dalam setahun, penerbitan 6 judul buku sejumlah 3000 eksemplar , serta fastival mengadakan lomba dan wisata sejarah lima kali setahun.

Koleksi utama museum ini hingga tahun 2006 telah didata kurang lebih berjumlah 6000. Koleksi pendukungnya yaitu kedua patung peninggalan Kerajaan Dharmasraya, dan juga ada beberapa koleksi pending yang terbuat dari perak dan dilapis emas tua seberat 17 gram serta dilengkapi permata putih mengkilat pada bagian tengah.

Selain itu, ada juga Pending yaitu perangkat yang sering digunakan oleh para penghulu pada setiap upacara adat Minangkabau. Jam buka museum Adityawarman ini dimulai dari pukul 8 pagi sampai 6 sore setiap hari kecuali hari Senin. Yuk perdalam khasanah keilmuan dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.