Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Fakultas Kedokteran UNAIR ( Universitas Airlangga ) lahir dengan tantangan yang cukup banyak seperti, Kondisi negara yang tak menentu, jumlah tenaga pengajar yang kurang, ruangan yang tak terurus, hingga status yang tidak jelas. Akan tetapi semua tantangan tersebut bukanlah halangan dan mampu di lewati dengan semangat dan juga kerja keras. Periode yang bersejarah ini akan menjadi bagian yang penting di dalam jejak langkah fakultas Kedokteran UNAIR (FKUA). Ini merupakan periode yang sangatlah penuh tantangan, seiring dengan suranya pemerintahan Republik Indonesia Serikat Kedokteran UNAIR juga mempunyai banyak kesulitan.

Setelah lapang menyerah, pemerintahan pendudukan belanda masuk kembali, perjalanan berikutnya tepat pada tanggal 1 September 1948. Oleh pemerintah pendudukan belanda membuka kembali perguruan tinggi kedokteran dengan nama Faculteit der Geneeskunde di jakarta dan cabangnya pimpinan Geneeskune Surabaya dijaba oleh Prof A.B. Droogleever Fortuyn yang merupakan pakar ilmu hewan dan genetika. Pada tahun 1949 Prof Dr. G.M. Streef Menggantikan posisinya.

Sejarah Terbentuknya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Lahirnya kedokteran Universitas Airlangga berasal dari sekolah yang di buat oleh militer Belanda pada saat jaman penjajahan Belanda pada saat itu, sekolah tersebut bernama Nederlandsch Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda), atau dikenal dengan singkatannya NIAS. NIAS atau yang disebut Nederlandsch Indische Artsen School merupakan sekolah kedokteran yang didirikan di Surabaya tahun 1913 bagi penduduk pribumi (Jawa). Lulusan NIAS secara resmi disebut dengan gelar “Dokter Djawa”. Para pengajarnya sebagian besar adalah dokter-dokter militer Belanda.

Meskipun dinamakan sekolah kedokteran, tetapi fokus pendidikannya saat itu masih pada pengetahuan kesehatan dasar dan aplikasinya yang praktis, yang diantaranya adalah pengetahuan dalam pelaksanaan vaksinasi. Tujuannya adalah agar para lulusan langsung dapat bekerja menjaga kesehatan umum di kalangan masyarakat pedesaan, dengan pengetahuan yang cukup dan dapat dipertanggung-jawabkan.

Setelah masa pergolakan kemerdekaan sempat terganggu kelancarannya, namun pada 1948 pemerintah pendudukan Belanda mendirikan Tandheelkunding Instituut yang merupakan cabang Universiteit van Indonesie Jakarta dan membuka kembali NIAS dengan nama Faculteit der Geneeskunde yang juga sebagai cabang Universiteit van Indonesie Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia baru resmi membuka Universitas Airlangga Surabaya serta jurusan-jurusan yang terbentuk saat itu yang salah satunya kedokteran pada hari Rabu, 10 November 1954 oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno.

Legalitas Fakultas

Karena perkuliahan dan ujian di Universitas Airlangga masih tergantung pada Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada, maka pemerintah kemudian mengatur pemisahan niereka. Legalitas pemisahan terlaksana pada 1 April 1955 yang ditandatangani Presiden Universitas Airlangga (A.G.Pringgodigdo), Presiden Universitas Indonesia (Bahder Djohan), dan Presiden Universitas Gadjah Mada (M. Sardjito) pada 9 April 1955 di Surabaya.

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Pemisahan tersebut termasuk penyerahan kantor cabang dari universitas bersangkutan dengan segala perlengakapnnya dan gedung-gedung perkuliahan, serta penyerahan para pegawai. Setelah pemisahan itu, Universitas Airlangga berkedudukan sejajar dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadj ah Mada dengan status sebagai universitas negeri. Fakultet Kedokteran cabang Surabaya, yang baru dipisahkan dari induknya Fakultet Kedokteran Universitet Indonesia pada 1954, digabungkan ke Universitas Airlangga. Universitas Airlangga Iahir ketika Indonesia baru mengakhiri peperangan panj ang serta menyedot banyak sumber daya.

Kedatangan kembali pasukan Belanda ke Indonesia disarnbut perlawanan sengit oleh rakyat Indonesia. Akibatnya berbagai infrastruktur rusak, perekonomian macet, konsolidasi politik mengalami banyak gangguan. Itu berimbas pada keberadaan universitas. Tantangan lain yang dihadapi adalah gedung untuk perkantoran dan perkuliahan masih sangat sedikit dan terpisah-pisah. Perkuliahan terpencar-pencar; Fakultas Kedokteran menempati gedung NL/XS bersama Fakultas Kedokteran Gigi, sementara fakultas Iain di tempat terpisah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *